<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Belajar Islam</title>
	<atom:link href="http://ismailmusa.net/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ismailmusa.net</link>
	<description>Mengenal Ajaran Islam</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Feb 2010 13:54:46 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pentingnya Ilmu Dalam Pernikahan</title>
		<link>http://ismailmusa.net/pentingnya-ilmu-dalam-pernikahan.html</link>
		<comments>http://ismailmusa.net/pentingnya-ilmu-dalam-pernikahan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 13:54:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Musa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga Sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Kiyaa]]></category>
		<category><![CDATA[Birrul Walidain]]></category>
		<category><![CDATA[Mu'qatil]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Ishaq Zulfa Husein]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailmusa.net/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[Pernikahan adalah hal yang fitrah….. didambakan oleh setiap orang yang normal, baik itu laki-laki maupun perempuan yang sudah baligh. Dan disyariatkan oleh Islam, sebagai amalan sunnah bagi yang melaksanakannya.

Allah SWT menciptakan manusia dengan rasa saling tertarik kepada lawan jenis dan saling membutuhkan, sehingga dengan itu saling mengasihi dan mencintai untuk mendapatkan ketenangan dan keturunan dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pernikahan adalah hal yang fitrah….. didambakan oleh setiap orang yang normal, baik itu laki-laki maupun perempuan yang sudah baligh. Dan disyariatkan oleh Islam, sebagai amalan sunnah bagi yang melaksanakannya.<br />
<span id="more-356"></span><br />
Allah SWT menciptakan manusia dengan rasa saling tertarik kepada lawan jenis dan saling membutuhkan, sehingga dengan itu saling mengasihi dan mencintai untuk mendapatkan ketenangan dan keturunan dalam kehidupannya. Bahkan pernikahan adalah merupakan rangkaian ibadah kepada Allah SWT yang di dalamnya banyak terdapat keutamaan dan pahala besar yang diraih oleh pasangan tersebut.</p>
<p>Walaupun demikian, banyak kita jumpai pada saudara-saudarai kita tealah salah menilai suatu pernikahan, bahkan di kalangan mereka tidak mengerti ilmu sekalipun.Langkah awal melakukan pernikahan didasari karena ingin lari dari suatu problem yang sedang dialami. Sebagai contoh kasus dibawah ini:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Fulanah adalah seorang muslimah, yang sudah mengkaji ilmu dien. Ia mempunyai konflik yang cukup berat dengan orang tuanya, mungkin dengan sedikitnya ilmu maka ia kurang bisa dalam bermuamalah dengan orang tuanya, atau mungkin juga karena kurang fahamnya tentang bagaimana pengalaman daripada <em><span style="color: #008080;"><strong><span style="color: #0000ff;">Birrul-walidain</span></strong> </span></em><span style="color: #0000ff;">(Berbakti kepada kedua orang tua-ed). </span>Masalahnya ia akan dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tuanya yang menurutnya tidak sepaham dalam hal <em>manhaj</em> (pemahaman).</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan ini adalah terpuji di dalam Islam, namun cara pendekatan dan cara menolak kepada orang tuanya yang mungkinkurang baik. Keua orang tuanya mendesak terus agar ia menerima lelaki yang dianggap tepat untuk pasangan hidup anaknya. Fulanah sangat bingung, apalagi orangtuanya mulai mengancam dengan berbagai ancaman. Kebingungannya itu, ia kemukakan kepada salah seorang teman perempuannya sepengajian yang sudah nikah. Temannya itu pun dengan spontan menyarankan supaya dia menikah dengan teman suaminya. Fulanah dengan senang hati menerima usulan tersebut, sejuta harapan yang indah …. bayangkan ! Ia akan terbebas dari problem yang sedang ia hadapi dan dapat menjadi istri seseorang yang sefaham dengannya nanti … bisa ngaji sama-sama, bisa mengamalkan ilmu sama-sama. Lelaki yang dimaksudpun akhirnya merasa iba setelah mendengar cerita tentang keistiqomahan Fulanah. Dia beranggapan bahwa Fulanah lebih perlu ditolong, sekalipun cita-citanya yang menjadi taruhannya. Sebenarnya ia belum siap untuk menikah, karena sedang menimba ilmu<em> dien</em> bahkan baru mulai merasakan lezatnya menimba ilmu.</p>
<p>Singkat cerita akhirnya dengan izin Allah menikahlah mereka. Orang tuanya yang tadinya bersikeras, mengizinkan dengan ketulusan hati seorang bapak kepada putrinya, demi kebaikan anaknya. Pernikahan berlangsung dengan disaksikan oleh kedua orangtua Fulanah dan teman-temannya.</p>
<p>Mulanya pasangan ini kelihatan bahagia. Dengan seribu cita-cita dan angan-angan. Fulanah ingin membentuk rumah tangga yang Islami bersama suami yang akan selalu membimbing dia dan akan selalu bersama disampingnya.</p>
<p>Hari-hari terus berjalan sebulan-dua bulan…, mereka mulai mengetahui kelemahan masing-masing, dan mulailah timbul perasaan kecewa di hati mereka, harapan dan cita-cita tidak sesuai dengan kenyataan. Si isteri kurang mengetahui tentang hal-hal yang harus ia lakukan, misalnya ketika suami pulang dari luar rumah; ia berpenampilan seadanya, bahkan terkesan kusut dan tidak menarik. Mungkin ia menganggap suaminya orang baik yang tidak perlu memandang wanita yang berpenampilan indah dan menarik.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini hanya satu contoh dan masih banyak hal lagi yang membuat suami kecewa. Sang suami yang sudah pernah merasakan lezatnya menimba ilmu, ingin kembali sibuk dalam majlis ilmu. Baginya duduk bersama teman-teman semajlis ilmu lebih mengasyikkan dari pada duduk bersama isteri yang “menjenuhkan ?.</p>
<p>Fulanah yang masih kurang ilmu diennya, menilai bahwa suaminya telah menelantarkannya. Fulanah merasa tertekan melihat tingkah laku suaminya yang demikian. Tak tahu harus berbuat apa. Ia memang kurang mempunyai bekal ilmu untuk menghadapi pernikahan. Konflik rumah tangga pun terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata konflik dengan orang tuanya yang dulu, lebih ringan rasanya dibanding dengan konfliknya yang sekarang. Kalau sudah seperti ini …. apa yang ingin ia lakukan? Cerai … dan kembali ke orang tua ? …. <em>wal’iyadzubillah</em>, bukan hal yang mudah !</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya kasus yang terjadi di atas banyak kita jumpai di kalangan muslim dan muslimah yang tanpa pikir panjang dan tanpa persiapan apa-apa dalam langkahnya menuju nikah. Bahkan ada problem rumah tangga yang lebih parah lagi akibat dari pernikahan yang tanpa dilandasi oleh ilmu dien, amalan dan ketaqwaan. Misalnya ada kemaksiatan yang terjadi di dalam rumah tangga tersebut ; suami menyeleweng atau sebaliknya, yang membuat rumah tangga menjadi runyam berantakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Nikah yang katanya untuk mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan serta untuk mewujudkan cita-cita yang indah dan mulia, menjadi sebaliknya. Akhirnya keluarga dan anak-anak yang akan jadi korban kecerobohan karena faktor ketergesaan.</p>
<p>Memang untuk mendapatkan keluarga sakinah seperti yang dicita-citakan setiap muslim dan muslimah, tidak semudah yang dibayangkan. Ternyata pemahaman ilmu dien yang cukup dari masing-masing pihak memegang peran penting untuk mewujudkan cita-cita tersebut, mengingat dalam rumah tangga banyak permasalahan yang akan timbul. Seperti bagaimana memenuhi hak dan kewajiban suami-istri, apa tugas masing-masing dan bagaimana cara mendidik anak. Bagaimana mungkin jika tidak kita persiapkan sebelumnya? Disinilah salah satu hikmah diwajibkannya bagi setiap muslim untuk mencari ilmu.<br />
<span style="color: #0000ff;"><br />
</span></p>
<h3><span style="color: #0000ff;"><strong>Pentingnya Ilmu</strong></span></h3>
<p style="text-align: justify;">Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh sekelompok shahabat di antaranya Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu :</p>
<p>“Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim ?<br />
(HR. Ahmad dalam Al’Ilal, berkata Al Hafidz Al Mizzi; hadits hasan. Lihat Jami’ Bayan Al-Ilmi wa Fadhlihi, ta’lif Ibnu Abdil Baar, tahqiq Abi Al Asybal Az Zuhri, yang membahas panjang lebar tentang derajat hadits ini)</p>
<p>Ilmu yang demaksud di atas adalah ilmu dien yaitu pengenalan petunjuk dengan dalilnya yang memberi manfaat bagi siapa pun yang mengenalnya.</p>
<p>Kita harus berilmu agar selamat hidup di dunia dan di akhirat. Karena dengan berilmu kita akan tahu mana yang diperintahkan oleh Allah SWT dan mana yang dilarang, atau mana yang disunnahkan oleh Rasul-Nya dan mana yang tidak sesuai dengan sunnah (bid’ah).</p>
<p>Dengan ilmu kita tahu tentang hukum halal dan haram, kita mengetahui makna kehidupan dunia ini dan kehidupan setelah kematian yaitu alam kubur, kita tahu kedahsyatan Mahsyar dan keadaan hari kiamat serta kenikmatan jannah dan kengerian neraka, dan lain sebagainya.</p>
<p>Dengan ilmu dapat mendatangkan rasa takut kepada Allah Ta’ala, karena sungguh Dia Yang Maha Mulia telah berfirman :</p>
<p>“Sesungghnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya adalah orang yang berilmu (ulama). ? (QS. Fathir : 28)</p>
<p>Dengan rasa takut kepada Allah ta’ala amalan yang kita lakukan ada kontrolnya, dibenci atau diridhai oleh Allah ta’ala.</p>
<p>Imam Ahmad berkata :<br />
“Asalnya ilmu adalah takut (takwa) kepada Allah Ta’ala ? (Lihat Hilyah Thalibul ‘Ilmi, ta’lif Bakr bin Abdillah Abu Zaid, hal. 13)</p>
<p>Orang yang berilmu akan tahu betapa berat siksa Allah sehingga ia takut berbuat maksiat kepada Allah. Ilmu juga membuat orang tahu betapa besar rahmat Allah Ta’ala sehingga dalam beramal ia selalu mengharap ridha-Nya semata.</p>
<p>Perlu diingat bahwa bukanlah yang dimaksud dengan orang berilmu itu adalah orang yang memiliki banyak kitab atau riwayat yang diketahui, tapi yang dinamakan berilmu apabila orang tersebut memahami apa yang disampaikan kepadanya dari ilmu-ilmu tersebut dan mengamalkannya. (Lihat Syarhus Sunnah oleh Al Imam Al Barbahari)</p>
<p>Ilmu merupakan obat bagi hati yang sakit dan merupakan hal yang paling penting bagi setiap manusia setelah mengenal diennya. Sehingga dengan mengenal ilmu dan mengamalkannya akan menjadi sebab bagi setiap hamba untuk masuk jannah-Nya Allah Ta’ala dan bila jahil terhadap ilmu bisa menyebabkan ia masuk neraka.</p>
<p>Ilmu adalah warisan dari para Nabi dan merupakan cahaya hati, setinggi-tinggi derajatnya di antara manusia dan sedekatnya-sedekatNya manusia kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah ta’ala :</p>
<p>“… Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…. ? (Al Mujaadilah : 11)</p>
<p>Kebutuhan seorang hamba akan ilmu dien ini, melebihij kebutuhan akan makan dan minum sampai digambarkan bahwa kebutuhan ilmu itu sama seperti manusia membutuhkan udara untuk bernapas.</p>
<pre><strong><span style="color: #0000ff;">Ilmu Sebagai Landasan Untuk Membentuk Rumah Tangga</span></strong></pre>
<p style="text-align: justify;">
Karena nikah merupakan amalan yang sangat mulia di sisi Allah SWT dan merupakan rangkaian dari ibadah, maka menikah dalam Islam bukan hanya untuk bersenang-senang atau mencari kepuasan kebutuhan biologis semata. Akan tetapi seharusnyalah pernikahan dilakukan untuk menimba masyarakat kecil yang shalih yaitu rumah tangga dan masyarakat luas yang shalih pula sesuai dengan Al-Qur’an dan As Sunnah menurut pemahaman As Shalafus Shalih.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa sesungguhnya pasangan suami isteri dalam kehidupan berumah tangga akan menghadapi banyak problem dan untuk mengatasinya perlu ilmu. Dengan ilmu, pasangan suami istri tahu apa tujuan yang akan dicapai dalam sebuah pernikahan yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT, dan dalam rangka mencari ridha-Nya semata.</p>
<p>Di samping itu juga dengan ilmu sepasang suami-istri sama-sama mengetahui hak dan kewajibannya. Sehingga jalannya bahtera rumah tangga akan harmonis dan baik.</p>
<p>Suami dan istri juga diamanahi Rabb-Nya untuk mendidik anak keturunannya agar menjadi generasi Rabbani yang tunduk pada Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman salaful ummah. Agar keturunan yang terlahir dari pernikahan tersebut tumbuh di atas dasar pemahaman, dasar-dasar pendidikan imand dan ajaran Islam sejak kecil sampai dewasanya. Sungguh … ini merupakan tugas yang berat dan tentu saja butuh butuh ilmu.</p>
<p>Dari sinilah terlihat betapa pentingnya ilmu sebagai bekal bagi kehidupan rumah tangga muslim.</p>
<p>Tarbiyah Dalam Rumah Tangga</p>
<p>Dalam rumah tangga, suami merupakan tonggak keluarganya, pemimpin yang menegakkan urusan anak dan istrinya.</p>
<p>Allah SWT berfirman :</p>
<p>“Kaum laki-laki itu adalah pemipin bagi kaum wanita … ? (An Nisaa : 34)</p>
<p>Salah satu tugas suami sebagai <em><strong><span style="color: #0000ff;">qowwam</span></strong> </em>adalah meluruskan keluarganya dari penyimpangan terhadap al-haq dan mengenalkan al-haq itu sendiri. Seharusnyalah seorang suami menyediakan waktunya yang terdiri dari 24 jam untuk mentarbiyah keluarganya yang dimulai dengan istri untuk dipersiapkan sebagai madrasah bagi keturunannya. Tumbuhkan kecintaan terhadap ilmu di hati istri (syukur kalau memang sejak sebelum nikah si istri sudah mencintai ilmu) agar kelak ia dapat mendidik anak-anaknya untuk mencintai ilmu dan beramal dengannya.</p>
<p>Walaupun Islam telah menetapkan bahwa memberikan pengajaran, mendidik dan mengarahkan istri merupakan salah satu kewajiban suami namun sangat disayangkan masih banyak kita jumpai suami yang melalaikan dan menggampangkan hal ini. Atau si suami merasa cukup dengan pengetahuan dien yang minim dari sang istri sehingga menganggap tidak perlu menyediakan waktu untuk mendidik dan memberikan nasehat.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin kasus ini seperti ini tidak hanya kita jumpai di kalangan orang yang awam bahkan di kalangan du’at (para da’i). Kita lihat mereka sibuk mengurusi da’wah di luar rumah, sementara istrinya di rumah tidak sempat didakwahi. Akibatnya si istri tidak ngerti thaharah yang benar, shalat yang sesuai sunnah, mana tauhid mana syirik dan lain-lain (mungkin kalau si istri sebelum menikah sudah mempunyai ilmu, hal tersebut tidak menjadi masalah, tapi bagaimana kalau istrinya masih jahil ?) Sungguh hal ini perlu menjadi perhatian bagi para suami.</p>
<p>Allah SWT berfirman :</p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu …. ? (QS. At-Tahrim : 6)</p>
<p>Berkata Imam Ali Radiyallahu ‘anhu juga Mujahid dan Qatadah dalam menafsirkan ayat diatas: “Jaga diri kalian dengan amal-amal kalian dan jaga keluarga kalian dengan nasehat kalian ?</p>
<p>Dan sesungguhnya penjagaan itu tidak akan sempurna kecuali dengan iman dan amal yang baik setelah berupaya menjauhi syirik dan perbuatan maksiat. Semuanya ini menuntut adanya ilmu dan persiapan diri untuk mengamalkan apa yang telah diketahui (Lihat Aysaru At-Tafasir li Kalami Al-’Aliyul Kabir juz 5, hal. 387, ta’lif Abu Bakar Jabir Al Jazairi)</p>
<p>Berkata Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya: “Karena itu wajib bagi kaum laki-laki (suami) untuk memperbaiki dirinya dengan ketaatan dan memperbaiki isterinya dengan perbaikan seorang pemimpin atas apa yang dipimpinnya. Dalam hadits yang shahih Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanyai tentang apa yang dipimpinnya. Imam merupakan pemimpin manusia dan ia akan ditanyai tentangnya dan laki-laki (suami) adalah pemimpin keluarganya dan akan ditanyai tentangnya. ?</p>
<p>Al Qusyairi menyebutkan dari Umar Radiyallahu ‘anhu yang berkata tatkala turun ayat dalam surat At Tahrim di atas: “Wahai Rasulullah, kami menjaga diri kami, maka bagaimanakah cara kami untuk menjaga keluarga kami ? ? Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Kalian larang mereka dari apa-apa yang Allah larang pada kalian untuk melakukannya dan perintahkan mereka dengan apa yang Allah perintahkan. ?</p>
<p>Berkata Muqatil: “Yang demikian itu wajib atasnya untuk dirinya sendiri, anaknya, istrinya, budak laki-laki dan perempuannya. ?</p>
<p>Berkata Al-Kiyaa: “Maka wajib atas kita untuk mengajari anak dan istri kita akan ilmu agama, kebaikan serta adab. ? (Lihat Tafsir Al Qurthubi juz 8, hal. 6674-6675).</p>
<p>Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan yang termulia menyempatkan waktu untuk mengajari istrinya sehingga kita bisa mendengar atau membaca bagaimana kefaqihan ummul mu’minin ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha.</p>
<p>Para shahabat beliau Radiyallahu ‘anhum, tatkala tatkala turun ayat ke 31 surat An Nur :</p>
<p>… Dan hendaklah mereka (wanita yang beriman) menutupkan kain kudung ke dadanya … (An Nur : 31)</p>
<p>Mereka pulang menemui istri-istrinya dan membacakan firman Allah di atas, maka bersegeralah istri-istri mereka melaksanakan apa yang Allah perintahkan (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz 3 hal. 284)</p>
<p>Ini merupakan contoh bagaimana suami menyampaikan kembali kepada istrinya dari ilmu yang telah didapatkannya di majlis ilmu, sudah seharusnya menjadi panutan bagi kita.</p>
<p>Sebagai penutup, kami himbau kepada mereka yang ingin menikah atau sudah menikah agar tidak mengabaikan ilmu, dan berupaya memilih pasangan yang cinta akan ilmu agar kelak anak turunan juga dididik dalam suasana kecintaan akan ilmu.</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em></p>
<h5 style="text-align: justify;"><strong>(By: Ida &amp; Ummu Ishaq Zulfa Husein)</strong></h5>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailmusa.net/pentingnya-ilmu-dalam-pernikahan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wanita Yang Sebaiknya Engkau Cari</title>
		<link>http://ismailmusa.net/wanita-yang-sebaiknya-engkau-cari.html</link>
		<comments>http://ismailmusa.net/wanita-yang-sebaiknya-engkau-cari.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 13:23:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Musa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah bin Amr Ibnul Ash]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnul Ash]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyyin]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Salamah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailmusa.net/?p=354</guid>
		<description><![CDATA[Allah SWT berfirman :
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum : 21)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (3/473) :
“Termasuk kesempurnaan rahmat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Allah SWT berfirman :</p>
<p>“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum : 21)<br />
<span id="more-354"></span><br />
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (3/473) :</p>
<p style="text-align: justify;">“Termasuk kesempurnaan rahmat Allah SWT kepada anak Adam: Dia jadikan istri-istri mereka dari jenis mereka sendiri. Dan ditumbuhkan antara mereka “mawaddah” yaitu cinta dan “rahmah” yaitu kasih sayang. Karena seorang laki-laki menahan seorang wanita untuk tetap menjadi istrinya bisa karena ia mencintai wanita tersebut atau karena ia iba dan kasihan terhadapnya, dimana ia telah mendapatkan anak dari wanita tersebut atau wanita itu butuh padanya untuk mendapatkan belanja atau karena kedekatan di antara keduanya dan alasan selain itu.”</p>
<p><em>“ Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir “</em></p>
<p>Abdullah bin Amr ibnul Ash rahimahullah mengkhabarkan bahwasanya Rosulullah SAW bersabda :</p>
<p><em>“Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)</em></p>
<p>Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu mengabarkan dari Rosulullah SAW  bahwasanya beliau bersabda :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Wanita itu dinikahi karena 4 perkara. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita yang memiliki agama, engkau akan bahagia.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Sifat-sifat wanita yang sepantasnya engkau pilih sebagai istri sehingga ia bisa menjadi pengurus rumahmu dan pendidik anak-anakmu adalah wanita yang memiliki agama dan akhlak yang dapat membantumu untuk taat kepada Allah SWT. Yang mengingatkanmu ketika engkau lupa, menolongmu ketika engkau ingat, mengurus dan memperhatikanmu ketika engkau ada, menjaga hartamu dan kehormatannya ketika engkau tidak ada. Dia membuatmu ridha ketika engkau marah, mentaatimu ketika engkau perintah dan berbuat baik serta berbakti kepadamu.</p>
<p>Sesungguhnya wanita mulia yang menjaga kehormatannya tidak akan menyombongkan dirinya di hadapanmu dengan harta dan kecantikan yang ada padanya. Tidak pula dengan kedudukan dan nasab (keturunannya).</p>
<p>Akan tetapi sangat disayangkan dari kenyataan yang kita lihat di sekitar kita sebagian saudara kita dari kalangan salafiyyin justru mengutamakan wanita cantik, atau yang memiliki martabat atau berharta dan meninggalkan wanita penuntut ilmu yang memiliki keutamaan.<em> Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’un.</em></p>
<h5 style="text-align: justify;"><em><span style="color: #008000;">(Sumber : Persembahan Untukmu Duhai Muslimah, Penulis : Ummu Salamah As Salafiyah, Penerbit : Al Haura.)</span></em></h5>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailmusa.net/wanita-yang-sebaiknya-engkau-cari.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna, Hukum dan Tujuan Perkawinan</title>
		<link>http://ismailmusa.net/makna-hukum-dan-tujuan-perkawinan.html</link>
		<comments>http://ismailmusa.net/makna-hukum-dan-tujuan-perkawinan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 13:02:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Musa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab dan Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[Perkawinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailmusa.net/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[A. MAKNA PERKAWINAN
Pengertian Secara Bahasa
Az-zawaaj adalah kata dalam bahasa arab yang menunjukan arti: bersatunya dua perkara, atau bersatunya ruh dan badan untuk kebangkitan. Sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya):
“Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)” (Q.S At-Takwir : 7)
dan firman-Nya tentang nikmat bagi kaum mukminin di surga, yang artinya mereka disatukan dengan bidadari :
“Kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><span style="color: #0000ff;"><strong>A. MAKNA PERKAWINAN</strong></span></h3>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Pengertian Secara Bahasa</strong></em></p>
<p>Az-zawaaj adalah kata dalam bahasa arab yang menunjukan arti: bersatunya dua perkara, atau bersatunya ruh dan badan untuk kebangkitan. Sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya):<br />
<span id="more-351"></span>“Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)” (Q.S At-Takwir : 7)</p>
<p>dan firman-Nya tentang nikmat bagi kaum mukminin di surga, yang artinya mereka disatukan dengan bidadari :</p>
<p>“Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik lagi bermata jeli (Q.SAth-Thuur : 20)</p>
<p>Karena perkawinan menunjukkan makna bergandengan, maka disebut juga “Al¬-Aqd, yakni bergandengan (bersatu)nya antara laki-laki dengan perempuan, yang selanjutnya diistilahkan dengan “zawaaja ?.</p>
<p>Pengertian Secara Syar’i</p>
<p>Adapun secara syar’i perkawinan itu ialah ikatan yang menjadikan halalnya bersenang-senang antara laki-laki dengan perempuan, dan tidak berlaku, dengan adanya ikatan tersebut, larangan-larangan syari’at.</p>
<p>Lafadz yang semakna dengan “AzZuwaaj” adalah “An-Nikaah“; sebab nikah itu artinya saling bersatu dan saling masuk. Ada perbedaan pendapat di antara para ulama tentang maksud dari lafadz “An-Nikaah” yang sebenarnya. Apakah berarti “perkawinan” atau “jima’”.</p>
<p>Selanjutnya, ikatan pernikahan merupakan ikatan yang paling utama karena berkaitan dengan dzat manusia dan mengikat antara dua jiwa dengan ikatan cinta dan kasih sayang, dan karena ikatan tersebut merupakan sebab adanya keturunan dan terpeliharanya kemaluan dari perbuatan keji.</p>
<h3><span style="color: #0000ff;"><strong>B. HUKUM PERKAWINAN</strong></span></h3>
<p style="text-align: justify;">
An-Nikaah hukumnya dianjurkan, karena nikah itu termasuk sunnah Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bahwasanya telah berkata Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu:<br />
Telah datang tiga orang ke rumah istri-istri nabi Shalallahu’alaihi Wassallam. Mereka bertanya tentang ibadahnya, maka tatkala telah diberitahu maka seakan-akan merasa amalnya sangat sedikit, lalu mereka berkata: “Dimana kita dibanding Rosulullah SAW Shalallahu’alaihi Wassallam, sungguh Allah mengampuni dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang”. Maka berkata seseorang di antara mereka, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selamanya”, dan berkata seorang lagi, “Aku akan berpuasa sepanjang masa, ? dan yang lainnya,”Aku akan meninggalkan wanita, tidak akan menikah ?. Lalu datang Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam, kemudian beliau Shalallahu’alaihi Wassallam berkata:<br />
‘Kaliankah yang telah berkata begini dan begitu ? Demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling takut dan paling taqwa dari kalian, akan tetapi aku shalat dan aku tidur, aku puasa dan aku berbuka, dan aku menikahi wanita. Maka barang siapa yang membenci pada sunnahku, maka dia tidak termasuk golnganku ?.</p>
<p>Makna dari “barang siapa yang membenci sunnahku” adalah berpaling dari jalanku dan menyelisihi apa yang aku kerjakan, sedang makna “bukan dari golonganku” yakni bukan dari golongan yang lurus dan yang mudah, sebab dia memaksakan dirinya dengan apa yang tidak diperintahkan dan membebani dirinya dengan sesuatu yang berat. Jadi, maksudnya adalah barang siapa yang menyelisihi petunjuk dan jalannya Rosulullah SAW Shalallahu’alaihi Wassallam, dan berpendapat apa yang dia kerjakan dari ibadah itu lebih baik dari apa yang dikerjakan oleh Rosulullah SAW . Sehingga makna dari ucapan bukan dari golonganku” adalah bukan termasuk orang Islam, karena keyakinannya tersebut menyebabkan kekufuran.</p>
<p>Hukum nikah ini sunnah untuk orang yang bisa menanahan biologis dan tidak khawatir terjerumus ke dalam zina jika dia tidak menikah, dan dia telah mampu untuk memenuhi nafkah dan tanggung keluarga.</p>
<p>Adapun orang yang takut akan dirinya terjerumus ke dalam zina, jika dia tidak nikah, atau orang yang tidak mampu meninggalkan zina kecuali dengan nikah, maka nikah itu wajib atasnya. Dan untuk masalah nikah secara panjang lebar terdapat dalam kitab-kitab Fiqh.</p>
<h3><strong>C. TUJUAN PERNIKAHAN</strong></h3>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya perintah itu ikatan yang mulia dan penuh barakah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mensyari’atkan untuk kemaslahatan hamba-Nya dan kemanfaatan bagi manusia, agar tercapai maksud-maksud yang baik dan tujuan-tujuan yang mulia. Dan yang terpenting dari tujuan pernikahan ada dua, yaitu:</p>
<p>1. Mendapatkan keturunan atau anak<br />
2. Menjaga diri dari yang haram</p>
<p>Maksud Pertama “Mendapatkan Keturunan atau Anak“</p>
<p>Dianjurkan dalam pernikahan tujuan pertamanya adalah untuk mendapatkan keturunan yang shaleh, yang menyembah pada Allah dan mendo’akan pada orangtuanya sepeninggalnya, dan menyebut-sebut kebaikannya di kalangan manusia serta menjaga nama baiknya. Sungguh ada dalam hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu<br />
berkata : Adalah Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kami menikah dan melarang membujang dengan larangan yang keras dan belia bersabda :</p>
<p>“Nikahkah oleh kalian perempuan-perempuan yang pecinta dan peranak, maka sungguh aku berbangga dengan banyaknya kalian dari para Nabi di hari kiamat. ?</p>
<p>Al Walud (banyak anak), Al Wadud (pecinta), di mana dia mempunyai unsur-unsur kebaikan dan baik perangainya dan mencintai suaminya, Al-Makaatsarat ialah bangga dengan banyaknya umat shallallahu alaihi wa alaihi wa sallam di hari kiamat, maka Nabi,<br />
Berbangga dengan banyaknya umatnya dari semua para Nabi. Karena siapa yang umatnya lebih banyak maka pahalanya lebih banyak dan bagi beliau mendapat seperti pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Inilah tujuan yang besar dari pernikahan. Berfirman Allah Sub,hanahu wa Ta’ala (yang artinya) :</p>
<p>“Dan Dia (Allah) telah menjadikan bagimu dari istri-istrimu itu, anak-anak dan cucu-cucu ?&#8221; (Q.S An-Nahl-72)</p>
<p>Al-Hafadah (jama’ dari hafid artinya cucu; yang dimaksud dalam ayat ini adalah anaknya anak dan anak-anak keturunan mereka.</p>
<p>Maka manusia dengan fitrah yang Allah berikan padanya dijadikan rnencintai anak-anak karena Allah menghiasi manusia dengan cinta pada anak-anak. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (yang artinya) :</p>
<p>“Dijadikan indah pada (pandangan ) manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu ; wanita-wanita, anak-anak,… ?&#8221; (Q.S Ali-Imran -14)</p>
<p>Manusia memiliki naluri cinta pada anak-anak, karenanya Allah Subhanahu waTa’ala jadikan anak-anak sebagai perhiasan kehidupan dunia. Berfirman Allah (yang artinya):</p>
<p>“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. ?</p>
<p>Namun karena terlalu cintanya pada anak-anaknya, kadang-kadang bisa menjerumuskan ke dalam fitnah, sehingga dia bermaksiat pada Allah dengan sebab anak-anaknya. Allah berfirman (yang artinya):</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu) dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.&#8221; (Q.S At-Taghabun : 15)</p>
<p>Dan bila telah keterlaluan fitnah anak pada manusia, maka bisa mendorong pada perbuatan haram, seperti usaha yang haram untuk menafkahi mereka, atau meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan jihad di jalan Allah, karena takut kalau meninggalkan anak. Maka anak dalam hal ini sama kedudukannya dengan musuh, sehingga wajib berhati-hati dari keterikatan pada mereka. Dan ini adalah makna dari firman Allah Ta’ala (yang artinya) :</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isteri dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ?&#8221; (Q.S At-Taghabun:14)</p>
<p>Telah ada dalam sebab Nuzul ayat ini apa yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dan Hakim dan lainnya dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata :</p>
<p>“Telah turun ayat ini (At-Taghabun-14) tentang suatu kaum dari ahli Makkah, mereka telah masuk Islam, lalu istri-istri mereka dan anak-anak mereka menolak ajakan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">
Maka ketika mereka datang pada Rosulullah SAW Shalallahu’alaihi Wassallam di Madinah, mereka melihat orang-orang yang mendahului mereka dengan hijrah. Sungguh mereka telah pandai-pandai dalam urusan agama, maka mereka ingin menghukum istri-istri dan anak-anak mereka, lalu Allah turunkan pada mereka ayat :</p>
<p>“Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Penyayang?&#8221; (Q.S At-Taghabun : 14)</p>
<p>Maksud Kedua : “Menjaga Diri dari yang Haram“</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa yang terpenting dari tujuan nikah ialah memelihara dari perbuatan zina dan semua perbuatan-perbuatan keji, serta tidak semata-mata memenuhi syahwat saja. Memang bahwa memenuhi syahwat itu merupakan sebab untuk bisa menjaga diri, akan tetapi tidaklah akan terwujud iffah (penjagaan) itu kecuali dengan tujuan dan niat. Maka tidak benar memisahkan dua perkara yang satu dengan lainnya, karena manusia bila mengarahkan semua keinginannya untuk memenuhi syahwatnya dengan menyandarkan pada pemuasan nafsu atau jima’ yang berulang-ulang dan tidak ada niat memelihara diri dari zina, maka dimanakah perbedaannya antara manusia dengan binatang ?</p>
<p>Oleh karena itu, maka harus ada bagi laki-laki dan perempuan tujuan mulia dari perbuatan bersenang-senang yang mereka lakukan itu, yaitu tujuannya memenuhi syahwat dengan cara yang halal agar hajat mereka terpenuhi, dapat memelihara diri, dan berpaling dari yang haram. Inilah yang ditunjukkan oleh Rosulullah SAW salallahu ‘alaihi wa sallam . Sungguh diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata : telah berkata Rosulullah SAW :</p>
<p>“Wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian yang mampu maka nikahlah, karena sesungguhnya itu dapat menundukan pandangan dan memelihara kemaluan, maka barang siapa yang tidak mampu hendaknya dia berpuasa, karena sesungguhnya itu benteng<br />
baginya. ?</p>
<p>Al- Wijaa’, adalah satu jenis pengebirian, yaitu dengan mengosongkan saluran mani yang menghubungkan antara testis_dan dzakar. Dan makna hadits ini adalah : Barang siapa yang mampu di antara kamu wahai pemuda untuk berjima’ dan telah mampu untuk memikul beban-beban pernikahan dan amanahnya, maka nikahlah. Karena nikah itu akan menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Jika tidak mampu hendaknya dia berpuasa, karena puasa itu akan menghancurkan kekuatan gejolak syahwat, bagai pengebirian pada binatang buas untuk menghilangkan syahwatnya.</p>
<p>Maka jelaslah dari hadits ini bahwa Nabi salallahu ‘alaihi wasallam memberikan pada pernikahan itu dua perkara yang membantu pada kedua mempelai, yaitu pertama menundukan pandangan dari pandangan-pandangan yang diharamkan Allah Ta’ala dari para wanita, kedua memelihara kemaluan dari “zina” dan semua perbuatan-perbuatan keji. Sehubungan dengan makna ini telah ada hadits yang mulia yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhuma berkata :”Aku mendengar Rosulullah SAW bersabda :</p>
<p>“Apabila seseorang diantara kamu terkagum-kagum pada wanita lalu terkesan atau terjatuh dalam hati; maka hendaklah segera menemui isterinya lalu penuhilah hasratnya dengan isterinya, karena sesungguhnya itu akan menolak apa yang ada dihatinya atau jiwanya.&#8221;?</p>
<p>Adapun orang-orang yang telah menikah dan semua keinginannya dari pernikahan adalah syahwat dan jima’ semata, maka mereka tidak bertambah dengan jima’ tersebut kecuali tambah syahwat, dan dia tidak cukup dengan isterinya yang halal. Bahkan dia akan berpaling pada yang haram.</p>
<h6><span style="color: #008000;">(Dikutip dari kitab <em>Ushulul Mu’asyarotil Zaujiyah</em>, Penulis: Al-Qodhi Asy-Syaikh Muhammad Ahmad Kan’an, Edisi Indonesia “Tata Pergaulan Suami Istri Jilid I ? Penerbit Maktabah Al-Jihad, Yogyakarta)</span></h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailmusa.net/makna-hukum-dan-tujuan-perkawinan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adab Berpakaian Bagi Seorang Muslimah</title>
		<link>http://ismailmusa.net/adab-berpakaian-bagi-seorang-muslimah.html</link>
		<comments>http://ismailmusa.net/adab-berpakaian-bagi-seorang-muslimah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 07:31:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Musa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[adab berpakaian]]></category>
		<category><![CDATA[memakai pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailmusa.net/?p=349</guid>
		<description><![CDATA[Haruskah Hitam?
Terkait dengan warna pakaian terutama pakaian perempuan, terdapat beragam sikap orang yang dapat kita jumpai. Ada yang beranggapan bahwa warna pakaian seorang perempuan muslimah itu harus hitam atau minimal warna yang cenderung gelap. Di sisi lain ada yang memiliki pandangan bahwa perempuan bebas memilih warna dan motif apa saja yang dia sukai. Sesungguhnya Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Haruskah Hitam?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Terkait dengan warna pakaian terutama pakaian perempuan, terdapat beragam sikap orang yang dapat kita jumpai. Ada yang beranggapan bahwa warna pakaian seorang perempuan muslimah itu harus hitam atau minimal warna yang cenderung gelap. Di sisi lain ada yang memiliki pandangan bahwa perempuan bebas memilih warna dan motif apa saja yang dia sukai. Sesungguhnya Allah itu maha indah dan mencintai keindahan, kata mereka beralasan. Manakah yang benar dari pendapat-pendapat ini jika ditimbang dengan aturan al-Qur’an dan sunnah shahihah yang merupakan suluh kita untuk menentukan pilihan dari berbagai pendapat yang kita jumpai?</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-349"></span><br />
Salah satu persyaratan pakaian muslimah yang syar’i adalah pakaian tersebut bukanlah perhiasan. Dalam syarat ini adalah firman Allah yang artinya, <em>“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang  (biasa) nampak dari padanya.”</em> (QS. an Nur:31). Dengan redaksinya yang umum ayat ini mencakup larangan menggunakan pakaian luar jika pakaian tersebut berstatus “perhiasan” yang menarik pandangan laki-laki.</p>
<p style="text-align: justify;">عن فَضَالَةُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ ثَلَاثَةٌ لَا تَسْأَلْ عَنْهُمْ رَجُلٌ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَعَصَى إِمَامَهُ وَمَاتَ عَاصِيًا وَأَمَةٌ أَوْ عَبْدٌ أَبَقَ فَمَاتَ وَامْرَأَةٌ غَابَ عَنْهَا زَوْجُهَا قَدْ كَفَاهَا مُؤْنَةَ الدُّنْيَا فَتَبَرَّجَتْ بَعْدَهُ فَلَا تَسْأَلْ عَنْهُمْ</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Fadhalah bin Ubaid, dari Nabi beliau bersabda, <em>“Tiga jenis  orang yang tidak perlu kau tanyakan (karena mereka adalah orang-orang  yang binasa). <strong>Yang pertama</strong> adalah orang yang meninggalkan jamaah kaum muslimin yang dipimpin oleh seorang muslim yang memiliki kekuasaan yang sah dan memilih untuk mendurhakai penguasa tersebut sehingga meninggal dalam kondisi durhaka kepada penguasanya. <strong>Yang kedua</strong> adalah budak  laki-laki atau perempuan yang kabur dari tuannya dan meninggal dalam  keadaan demikian. <strong>Yang ketiga</strong> adalah seorang perempuan yang ditinggal pergi oleh suaminya padahal suaminya telah memenuhi segala kebutuhan duniawinya lalu ia bertabarruj setelah kepergian sang suami. Jangan pernah bertanya tentang mereka.”</em> (HR Ahmad no 22817 dll, shahih. Lihat <em>Fiqh Sunnah lin Nisa’</em>, hal 387)</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan tabarruj itu didefinisikan oleh para ulama’ dengan seorang perempuan yang menampakkan “perhiasan” dan daya tariknya serta segala sesuatu yang wajib ditutupi karena hal tersebut bisa membangkitkan birahi seorang laki-laki yang masih normal.</p>
<p style="text-align: justify;">Di samping itu, maksud dari perintah berjilbab adalah menutupi segala sesuatu yang menjadi perhiasan (baca: daya tarik) seorang perempuan. Maka sungguh sangat aneh jika ternyata pakaian yang dikenakan tersebut malah menjadi daya tarik tersendiri. Sehingga fungsi pakaian tidak berjalan sebagaimana mestinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski demikian anggapan sebagian perempuan multazimah (yang komitmen dengan aturan agama) bahwa seluruh pakaian yang tidak berwarna hitam adalah pakaian “perhiasan” adalah anggapan yang kurang tepat dengan menimbang dua alasan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Yang pertama</strong>, sabda Nabi,</p>
<p style="text-align: justify;">إن طيب الرجال ما خفي لونه وظهر ريحه ، وطيب النساء ما ظهر لونه وخفي ريحه</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Wewangian seorang laki-laki adalah yang tidak jelas warnanya tapi nampak bau harumnya. Sedangkan wewangian perempuan adalah yang warnanya jelas namun baunya tidak begitu nampak.”</em> (HR. Baihaqi dalam <em>Syu’abul  Iman</em> no.7564 dll, hasan. Lihat <em>Fiqh Sunnah lin Nisa’</em>, hal. 387)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini mengisyaratkan bahwa adanya warna yang jelas bukanlah suatu hal yang terlarang secara mutlak bagi seorang perempuan muslimah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Yang kedua</strong>, para sahabiyah (sahabat Nabi yang perempuan) bisa memakai pakaian yang berwarna selain warna hitam. Bukti untuk hal tersebut adalah riwayat-riwayat berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ فَتَزَوَّجَهَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الزَّبِيرِ الْقُرَظِيُّ قَالَتْ عَائِشَةُ وَعَلَيْهَا خِمَارٌ أَخْضَرُ فَشَكَتْ إِلَيْهَا وَأَرَتْهَا خُضْرَةً بِجِلْدِهَا فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنِّسَاءُ يَنْصُرُ بَعْضُهُنَّ بَعْضًا قَالَتْ عَائِشَةُ مَا رَأَيْتُ مِثْلَ مَا يَلْقَى الْمُؤْمِنَاتُ لَجِلْدُهَا أَشَدُّ خُضْرَةً مِنْ ثَوْبِهَا</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Ikrimah, Rifa’ah menceraikan istrinya yang kemudian dinikahi oleh Abdurrahman bin az Zubair. Aisyah mengatakan, “Bekas istri rifa’ah itu memiliki kerudung yang berwarna hijau. Perempuan tersebut mengadukan dan memperlihatkan kulitnya yang berwarna hijau. Ketika Rasulullah tiba, Aisyah mengatakan, Aku belum pernah melihat semisal yang dialami oleh perempuan mukminah ini. Sungguh kulitnya lebih hijau dari pada pakaiannya.” (HR. Bukhari no. 5377)</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Ummi Khalid binti Khalid, Nabi mendapatkan hadiah berupa  pakaian berwarna hitam berukuran kecil. Nabi bersabda, <em>“Menurut  pendapat kalian siapakah yang paling tepat kuberikan pakaian ini  kepadanya?”</em> Para sahabat hanya terdiam seribu bahasa. Beliau lantas  bersabda, <em>“Bawa kemari Ummi Khalid </em>(seorang anak kecil perempuan yang diberi kunyah Ummi Khalid)” Ummi Khalid dibawa ke hadapan Nabi sambil digendong. Nabi lantas mengambil pakaian tadi dengan tangannya lalu mengenakannya pada Ummi Khalid sambil mendoakannya, <em>“Moga awet, moga  awet.”</em> Pakaian tersebut memiliki garis-garis hijau atau kuning. Nabi  kemudian berkata, <em>“Wahai Ummi khalid, ini pakaian yang cantik.”</em> (HR.  Bukhari no. 5823)</p>
<p style="text-align: justify;">Meski ketika itu Ummi Khalid belum balig namun Nabi tidak mungkin melatih dan membiasakan anak kecil untuk mengerjakan sebuah kemaksiatan. Sehingga hadits ini menunjukkan bolehnya seorang perempuan mengenakan pakaian berwarna hitam yang bercampur dengan garis-garis berwarna hijau atau kuning. Jadi pakaian tersebut tidak murni berwarna hitam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr, “Sesungguhnya Aisyah  memakai pakaian yang dicelup dengan <em>‘ushfur</em> saat beliau berihram” (HR.  Ibnu Abi Syaibah 8/372, dengan sanad yang shahih)</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tulisan yang lewat telah kita bahas bahwa yang dimaksud dengan  celupan dengan <em>‘ushfur</em> adalah celupan yang menghasilkan warna merah.</p>
<p style="text-align: justify;">Perbuatan Aisyah sebagaimana dalam riwayat di atas menunjukkan bahwa seorang perempuan muslimah diperbolehkan memakai pakaian berwarna merah polos. Bahkan pakaian merah polos adalah pakaian khas bagi perempuan sebagaimana keterangan di edisi yang lewat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Berikut ini beberapa riwayat yang kuat dari salaf tentang hal ini:</strong></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Dari Ibrahim an Nakha’i, bersama Alqamah dan al Aswad beliau menjumpai beberapa istri Nabi. beliau melihat para istri Nabi tersebut mengenakan pakaian berwarna merah.</li>
<li>Dari Ibnu Abi Mulaikah, aku melihat Ummi Salamah mengenakan kain yang dicelup dengan <em>‘ushfur</em> (baca: berwarna merah).</li>
<li>Dari Hisyam dari Fathimah bin al Mundzir, sesungguhnya asma’ memakai pakaian yang dicelup dengan <em>‘ushfur</em> (baca: berwarna merah)</li>
<li>Dari Said bin Jubair, beliau melihat salah seorang istri Nabi yang thawaf mengelilingi Ka’bah sambil mengenakan pakaian yang dicelup dengan <em>‘ushfur</em> (Baca: Berwarna merah). (Lihat <em>Jilbab Mar’ah Muslimah</em> karya al Albani hal. 122-123).</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Di samping itu riwayat-riwayat di atas juga menunjukkan bahwa pakaian berwarna merah tersebut dipakai di hadapan banyak orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat kata, yang dimaksud dengan pakaian yang menjadi “perhiasan” yang tidak boleh dipakai oleh seorang muslimah ketika keluar rumah adalah:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Pakaian yang terdiri dari berbagai warna (Baca: Warna warni).</li>
<li>Pakaian yang dihias dengan garis-garis berwarna keemasan atau berwarna perak yang menarik perhatian laki-laki yang masih normal. (<em>Fiqh Sunnah lin Nisa’</em>, hal. 388).</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Al Alusi berkata, “Kemudian ketahuilah bahwa menurut kami termasuk “perhiasan” yang terlarang untuk dinampakkan adalah kelakuan mayoritas perempuan yang bergaya hidup mewah di masa kita saat ini yaitu pakaian yang melebihi kebutuhan untuk menutupi aurat ketika keluar dari rumah. Yaitu pakaian dari tenunan sutra terdiri dari beberapa warna (baca:warna-warni). Pada pakaian tersebut terdapat garis-garis berwarna keemasan atau berwarna perak yang membuat mata lelaki normal terbelalak. Menurut kami suami atau orang tua yang mengizinkan mereka keluar rumah dan berjalan di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya dalam keadaan demikian itu disebabkan kurangnya rasa cemburu. Hal ini adalah kasus yang terjadi di mana-mana.” (<em>Ruhul Ma’ani</em>, 6/56, lihat <em>Jilbab  Mar’ah Muslimah</em>, karya Al Albani hal. 121-122).</p>
<p style="text-align: justify;">Jika demikian keadaan di masa beliau, lalu apa yang bisa kita  katakan tentang keadaan masa sekarang! <em>Allahul Musta’an</em> (Hanya kepada  Allah kita memohon pertolongan).</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun demikian, pakaian yang lebih dianjurkan adalah pakaian yang berwarna hitam atau cenderung gelap karena itu adalah:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Pakaian yang sering dikenakan oleh para istri Nabi. Ketika Shafwan menjumpai Aisyah yang tertinggal dari rombongan, Shafwan melihat sosok hitam seorang yang sedang tidur. (HR. Bukhari dan Muslim)</li>
<li>Hadits dari Aisyah yang menceritakan bahwa sesudah turunnya ayat hijab, para perempuan anshar keluar dari rumah-rumah mereka seakan-akan di kepala mereka terdapat burung gagak yang tentu berwarna hitam. (HR. Muslim)</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Serba Serbi Seputar Warna</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jilbab Putih</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Lajnah Daimah (Komite Fatwa Para Ulama’ Saudi) pernah mendapatkan  pertanyaan sebagai berikut, <em>“Apakah seorang perempuan diperbolehkan  memakai pakaian ketat dan memakai pakaian berwarna putih?”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawaban</strong> Lajnah Daimah, <em>“Seorang perempuan tidak diperbolehkan untuk menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya atau keluar ke jalan-jalan dan pusat perbelanjaan dalam keadaan memakai pakaian yang ketat, membentuk lekuk tubuh bagi orang yang memandangnya. Karena dengan pakaian tersebut, perempuan tadi seakan telanjang, memancing syahwat dan menjadi sebab timbulnya hal-hal yang berbahaya.</em> <em>Demikian pula, seorang perempuan tidak diperbolehkan memakai pakaian yang berwarna putih jika warna pakaian semisal itu di daerahnya merupakan ciri dan simbol laki-laki. Jika hal ini dilanggar berarti menyerupai laki-laki, suatu perbuatan yang dilaknat oleh Nabi.”</em> <em>(Fatawa  al Mar’ah</em>, 2/84, dikumpulkan oleh Muhammad Musnid).</p>
<p style="text-align: justify;">Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pada asalnya seorang perempuan diperbolehkan memakai pakaian yang berwarna putih asalkan cukup tebal sehingga tidak transparan/tembus pandang terutama ketika matahari bersinar cukup terik. Hukum ini bisa berubah jika di tempat tersebut pakaian berwarna putih merupakan ciri khas pakaian laki-laki maka terlarang karena menyerupai lawan jenis bukan karena warna putih.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu pandangan miring sebagian wanita multazimah (yang komitmen dengan syariat) di negeri kita terhadap wanita yang berwarna putih adalah pandangan yang tidak tepat karena di negeri kita pakaian berwarna putih bukanlah ciri khas pakaian laki-laki, bahkan sebaliknya menjadi ciri pakaian perempuan (Baca: Jilbab).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pakaian Perhiasan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam edisi yang lewat, telah kita bahas tentang salah satu yang terlarang untuk pakaian perempuan yaitu bukan perhiasan dan telah kita sebutkan dua kriteria untuk mengetahui hal tersebut. Namun beberapa waktu yang lewat kami dapatkan penjelasan yang lebih tepat mengenai hal ini. Tepatnya dari Syaikh Ali al Halabi, salah seorang ulama dari Yordania. Ketika beliau ditanya tentang parameter untuk menilai suatu pakaian itu pakaian perhiasan ataukah bukan bagi seorang perempuan, beliau katakan, <em>“Parameter untuk menilai hal tersebut adalah ‘urf (aturan tidak tertulis dalam suatu masyarakat)”</em> (Puncak, Bogor 14  Februari 2007 pukul 17:15).</p>
<p style="text-align: justify;">Penjelasan beliau sangat tepat, karena dalam ilmu ushul fiqh  terdapat suatu kaedah: <em>“Pengertian dari istilah syar’i kita pahami sebagaimana penjelasan syariat. Jika tidak ada maka mengacu kepada penjelasan linguistik arab. Jika tetap tidak kita jumpai maka mengacu kepada pandangan masyarakat setempat (’urf ).”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Misal pengertian menghormati orang yang lebih tua. Definisi tentang hal ini tidak kita jumpai dalam syariat maupun dari sudut pandang bahasa Arab. Oleh karena itu dikembalikan kepada pandangan masyarakat setempat. Jika suatu perbuatan dinilai menghormati maka itulah penghormatan. Sebaliknya jika dinilai sebagai penghinaan maka statusnya adalah penghinaan. Hal serupa kita jumpai dalam pengertian pakaian perhiasan bagi seorang muslimah yang terlarang. Misal menurut pandangan masyarakat kita pakaian kuning atau merah polos bagi seorang perempuan yang dikenakan ketika keluar rumah adalah pakaian perhiasan maka itulah pakaian perhiasan yang terlarang. Akan tetapi di tempat atau masa yang berbeda pakaian dengan warna tersebut tidak dinilai sebagai pakaian perhiasan maka pada saat itu pakaian tersebut tidak dinilai sebagai pakaian perhiasan yang terlarang.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Artikel ini merupakan ringkasan artikel yang berjudul “Adab Berpakaian” bagian ke 3 dan 4 dari beberapa seri artikel di www.muslim.or.id. Silahkan langsung merujuk ke www.muslim.or.id untuk mengetahui adab-adab berpakaian lainnya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailmusa.net/adab-berpakaian-bagi-seorang-muslimah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Pernah Berhenti Berdoa</title>
		<link>http://ismailmusa.net/jangan-pernah-berhenti-berdoa.html</link>
		<comments>http://ismailmusa.net/jangan-pernah-berhenti-berdoa.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 11:43:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Musa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Berdoa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailmusa.net/?p=346</guid>
		<description><![CDATA[Eramuslim &#8211; Orang bijak mengatakan, doa tanpa usaha adalah bohong dan usaha tanpa doa adalah sombong. Doa dan usaha adalah dua aktifitas yang tidak bisa dipisahkan. Kita tidak bisa hanya berdoa saja tanpa melakukan usaha semaksimal mungkin untuk mengapai tujuan kita. Kita juga tidak bisa hanya berusaha saja, tanpa berdoa dan mengabaikan Allah sebagai penentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.eramuslim.com" target="_blank"><strong>Eramuslim</strong></a> &#8211; Orang bijak mengatakan, doa tanpa usaha adalah bohong dan usaha tanpa doa adalah sombong. <strong><span style="color: #008000;">Doa dan usaha adalah dua aktifitas yang tidak bisa dipisahkan. Kita tidak bisa hanya berdoa saja tanpa melakukan usaha semaksimal mungkin untuk mengapai tujuan kita. Kita juga tidak bisa hanya berusaha saja, tanpa berdoa dan mengabaikan Allah sebagai penentu berhasil atau tidaknya tujuan kita.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #008000;"><span id="more-346"></span></span></strong>Doa adalah permohonan, pengharapan seorang hamba kepada Sang Khaliq. Doa itu intinya adalah ibadah, doa adalah senjata, doa adalah obat, doa adalah pintu segala kebaikan. Seluruh hamba sangat bergantung kepada pencipta-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap hamba memang harus berdoa, sebab kita diciptakan dalam keadaan penuh dengan keterbatasan-keterbatasan. Manusia memang ditakdirkan sebagai makhluk yang paling sempurna dengan segala kelebihan-kelebihannya, namun dibalik kelebihan itu manusia juga memiliki segudang kelemahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bayangkan jika kita sedang berada ditengah lautan. Tiba-tiba kapal yang kita tumpangi oleng ke kanan dan ke kiri karena badai yang tiba-tiba saja datang menghantam. Nahkoda memberi peringatan tanda bahaya. Tidak ada tempat kita meminta bantuan karena seluruh alat komunikasi terputus. Apakah yang akan kita lakukan pada saat itu? Masih pentingkah gelar, kedudukan, pangkat, jabatan, harta kekayaan yang melimpah, serta kecantikan? Tentu tidak, bagi kita keselamatan menjadi puncak harapan. Namun siapakah yang dapat memberikan keselamatan kala itu, kalau bukan kepada Allah SWT kita meminta?</p>
<p style="text-align: justify;">Dibalik kelebihan-kelebihan yang kita miliki, kita menyimpan kelemahan-kelemahan yang tidak dapat kita tutupi, untuk itu kita perlu meminta kepada Allah SWT, berdoa dengan penuh kekhusuan, penuh harapan, tulus, pasrah dan ikhlas, seperti yang difirmankan Allah:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><em>&#8220;Hai manusia, kamulah yang memerlukan Allah, dan Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) Yang Maha Terpuji.&#8221;</em> (QS Faathir: 15).</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ada sebuah kisah tentang masyarakat Basrah yang waktu itu sedang dilanda kemelut sosial. Kebetulan mereka kedatangan ulama besar yang bernama Ibrahim bin Adham. Masyarakat Basrah pun mengadukan nasibnya kepada Ibrahim bin Adham, &#8220;Wahai Abu Ishak (panggilan Ibrahim bin Adham), Allah berfirman dalam Al-Quran agar kami berdoa. Kami warga Basrah sudah bertahun-tahun berdoa, tetapi kenapa doa kami tidak dikabulkan Allah?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibrahim bin Adham menjawab, &#8220;Wahai penduduk Basrah, karena hati kalian telah mati dalam sepuluh perkara. Bagaimana mungkin doa kalian akan dikabulkan Allah!</p>
<p style="text-align: justify;">Kalian mengakui kekuasaan Allah, tetapi kalian tidak memenuhi hak-hak-Nya. Setiap hari kalian membaca Al-Quran, tetapi kalian tidak mengamalkan isinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalian selalu mengaku cinta kepada rasul, tetapi kalian meninggaklan pola prilaku sunnah-sunnahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap hari kalian membaca ta’awudz, berlindung kepada Allah dari setan yang kalian sebut sebagai musuhmu, tetapi setiap hari pula kalian memberi makan setan dan mengikuti langkahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalian selalu mengatakan ingin masuk syurga, tetapi perbuatan kalian justru bertentangan dengan keinginan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Katanya kalian takut masuk neraka, tetapi kalian justru mencampakkan dirimu sendiri kedalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalian mengakui bahwa maut adalah keniscayaan, tetapi nyatanya kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalian sibuk mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi terhadap kesalahan sendiri kalian tidak mampu melihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap saat kalian menikmati karunia Allah, tetapi kalian lupa mensyukurinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalian sering menguburkan jenazah saudaramu, tetapi kalian tidak bisa mengambil pelajaran dari peristiwa itu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Terakhir ia mengatakan, &#8220;Wahai penduduk Basrah, ingatlah sabda nabi, &#8220;Berdoalah kepada Allah, tetapi kalian harus yakin akan dikabulkan. Hanya saja kalian harus tahu bahwa <span style="color: #008000;"><strong>Allah tidak berkenan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan main-main.&#8221;</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Apapun persoalan hidup kita, apakah kita sedang bahagia atau sedih, tetaplah berdoa kepada Allah. Jangan pernah berhenti memanjatkan doa kepada Allah, karena doa adalah masa depan kita. Doa adalah kekuatan kita, doa adalah senjata kita. Perhatikan ada-adab berdoa, dan bersabarlah menunggu dikabulkan-NYA.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailmusa.net/jangan-pernah-berhenti-berdoa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dinamika Iman</title>
		<link>http://ismailmusa.net/dinamika-iman.html</link>
		<comments>http://ismailmusa.net/dinamika-iman.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 11:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Musa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Iman dan Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Dinamika Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailmusa.net/?p=344</guid>
		<description><![CDATA[MUKADDIMAH
Makna iman dalam perspektif Islam bukanlah sekadar percaya melainkan harus melingkupi tiga aspek yang kesemuanya ada pada manusia yakni qalb (hati), lisan dan amal shaleh. Artinya seseorang yang beriman harus meyakini dalam hatinya dengan sesungguh-sungguhnya tentang semua hal yang harus diyakininya. Kemudian menjelaskan dengan lisannya sebagai sebuah pernyataan keimanan yang membawa konsekuensi-konsekuensi tertentu. Dan akhirnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: justify;" dir="ltr"><strong><span style="color: #008000;">MUKADDIMAH</span></strong></h3>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Makna iman dalam perspektif Islam bukanlah sekadar percaya melainkan harus melingkupi tiga aspek yang kesemuanya ada pada manusia yakni qalb (hati), lisan dan amal shaleh. Artinya seseorang yang beriman harus meyakini dalam hatinya dengan sesungguh-sungguhnya tentang semua hal yang harus diyakininya. Kemudian menjelaskan dengan lisannya sebagai sebuah pernyataan keimanan yang membawa konsekuensi-konsekuensi tertentu. Dan akhirnya dijabarkan dan dibuktikan secara kongkrit dalam amal perbuatannya.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr"><span id="more-344"></span>Tidak bisa dikatakan beriman seseorang, bila ia tidak memenuhi tiga kriteria kelengkapan iman tersebut. Misalnya seperti paman Nabi SAW, yakni Abu Thalib, yang sebenarnya di lubuk hatinya meyakini kebenaran risalah yang dibawa kemenakannya dan sikap serta perilakunya menunjukkan bahwa ia selalu siap menjaga dan melindungi Rasulullah SAW.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Namun karena beliau tidak juga kunjung mau melafalkan keimanannya, maka beliau mati tetap dalam keadaan kafir dan dikatakan kelak masuk neraka, walaupun dengan hukuman teringan. Hal yang sebaliknya justru ada pada tokoh munafik yakni Abdullah bin Ubay bin Salul. Sosok ini menggembor-gemborkan lafas keimanannya dan menunjukkan sikap serta amalan selaku seorang muslim, tetapi hatinya mengingkari hal itu dan senantiasa diliputi hasad, kebusukan dan kebencian sehingga selalu secara diam-diam sibuk melakukan intrik-intrik, manuver-manuver, ”kasak-kusuk”, membuat dan menyebarkan isu, fitnah dan provokasi. Pendek kata benar-benar musuh dalam selimut yang menggunting dalam lipatan</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Selanjutnya tipe ketiga, yakni tipe orang yang meyakini keimanan dalam hatinya, melafalkannya namun enggan melaksanakan konsekuensi-konsekuensi keimanannya tersebut. Orang-orang seperti ini dikategorikan orang-orang <strong><span style="color: #ff0000;">“<em>fasiq</em>”.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Kemudian hal-hal apa saja yang harus diimani? Obyek yang harus diimani adalah semua yang termasuk dalam rukun iman yang enam, seperti yang tercantum dalam QS Al-Baqarah ayat 285 dan kemudian hadist Jibril yang terkenal. Keenam rukun iman tersebut ialah iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, takdir yang baik dan buruk serta hari kiamat</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Keimanan seseorang terhadap rukun iman tersebut membawa konsekuensi-konsekuensi logis yang harus dijalaninya. Iman kepada Allah seyogianya membuat seseorang menjadi taat kepada-Nya, menjalankan semua yang diperintahkan-Nya dan menjauhi semua yang dilarang-Nya serta selalu bersandar dan memohon pertolongan kepada-Nya, takut kepada ancaman dan neraka-Nya dan rindu serta mengharapkan ampunan, pahala dan syurga-Nya. Di samping itu tentu saja selalu ingat dan bersyukur kepada-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Berikutnya iman kepada malaikat membawa konsekuensi kita berhati-hati dalam sikap, perkataan, dan perbuatan karena di kanan dan di kiri kita ada Raqib dan Atid yang siap mencatat segala yang baik maupun yang buruk yang kita kerjakan.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Sedangkan iman kepada kitab-kitab-Nya membuat kita mengimani semua kitab suci yang berasal dari-Nya. Namun kitab-kitab suci terdahulu adalah sesuatu yang sudah habis masa berlakunya dan telah dikoreksi dan disempurnakan di dalam kitab yang terakhir: Al-Qur’an. Sehingga Al-Qur’an sajalah yang menjadi sumber acuan kita dalam segala aspek kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Kemudian iman kepada nabi-nabi membawa konsekuensi kita harus meneladaninya. Dan tidak membeda-bedakannya (QS 2:285). Namun tentu saja uswah dan panutan utama kita adalah Rasulullah Muhammad SAW (QS 33:21)</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Berikutnya iman kepada takdir yang baik dan buruk membuat kita akan selalu berusaha, berikhtiar optimal dan kemudian bertawakal atau berserah diri kepada Allah. Jika berhasil, itu berarti takdir baik berupa karunia Allah yang haus disyukuri dan bila gagal atau terkena musibah, itu berarti taqdir buruk berupa cobaan yang harus disabari dan diterima.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Dan akhirnya iman kepada hari akhir atau kiamat akan menyebabkan kita selalu waspada dan berhitung atau mengkalkulasi pahala dan dosa kita serta mempersiapkan bekal untuk hari kiamat itu (QS 59:18) berupa ketakwaan karena segala sesuatunya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">
<h3 style="text-align: justify;" dir="ltr">Dinamika iman dan bagaimana berinteraksi dengan kedinamisan iman tersebut.</h3>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">قَالَتِ الْأَعْرَابُ ءَامَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ<em> </em></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr"><em>“Orang-orang Arab Badwi itu berkata, “Kami telah beriman&#8221;. Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, “Kami telah tunduk&#8221;, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221; </em> (<em>Q.S. Al-Hujurat:14)</em></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Dari ayat tersebut di atas kita bisa melihat bahwa masalah iman bukanlah masalah sederhana, karena dibutuhkan waktu, jihad, kesungguh-sungguhan dalam ibadah, ketabahan selain juga faktor hidayah untuk membuat keimanan seseorang benar-benar mengakar, menukik, bahkan menghunjam ke dalam lubuk hati.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Kemudian persoalan berikutnya adalah kenyataan bahwa iman itu dinamis, fluktuatif atau turun-naik. Jadi setelah iman sudah ada di dalam hati, penting untuk selalu dideteksi apakah iman kita meningkat dan bertambah atau justru menurun dan berkurang.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Dalam hadis Nabi SAW disebutkan, <span style="color: #0000ff;">“<em>Al-iman yazid wa yanqush</em>” (<em>Iman bisa bertambah atau berkurang</em>).</span> Karena itu seorang yang beriman harus selalu berusaha memperbaharui dan meningkatkan keimanan nya. Seperti halnya tanaman, pohon, atau tumbuh-tumbuhan yang dapat kering, layu, atau bahkan mati bila tak disiram atau diberi pupuk, demikian pula halnya dengan keimanan yang dimiliki seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Begitu rentannya hati terhadap fluktuasi iman digambarkan oleh Abdullah bin Rawahah ra, <span style="color: #0000ff;">“<em>Berbolak-baliknya hati lebih cepat dibanding air yang menggelegak di periuk tatkala mendidih</em>.” </span></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Dari tinjauan etimologisnya saja, hati, qalban adalah sesuatu yang berbolak-balik sudah, nampak pula kerentanannya. Dan karena iman tempat di hati, seyogianyalah kita mewaspadai berbolak-baliknya hati dan turun naiknya iman.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Karena itu dalam surat Ali Imran: 8, Allah menuntun agar kita berdoa minta diberikan hidayah, rahmat dan ketetapan hati. Demikian pula doa yang dicontohkan Nabi saw. <span style="color: #0000ff;"><strong>”<em>Ya Allah, yang pandai membolak-balikkan hati, tetapkan hati hamba pada agamamu.</em>” </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Mengapa kita harus terus berdoa seperti itu? Karena usaha menjaga keimanan agar tetap survive dan kalau bisa meningkat adalah hal yang sangat berat, apalagi sampai membuat iman itu berbuah.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah pernah mengungkapkan kata-kata bijak, <strong><span style="color: #008000;">”<em>Dunia adalah ladang tempat menanam kebajikan yang hasilnya akan kita tuai, panen di akhirat kelak</em>.”</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Menurut Ibnul Qayyim pula, iman yang dimiliki seseorang adalah modal berupa bibit. Dan agar bibit itu tumbuh dan berbuah ia harus senantiasa disiram dan dipupuk oleh ketaatan kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Kita memang tidak bisa mengukur atau memprediksikan besar kecilnya kadar keimanan seseorang, namun paling tidak kita bisa melihat bias dan imbas keimanannya dari <em>libasut taqwa</em>, pakaian takwa yang dimilikinya dan implementasi iman berupa ibadah, amal shaleh dan ketaatan yang dilakukannya.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Seberapa besar dan banyak bibit yang dimiliki seseorang dan sejauh mana ia merawat, menjaga, menyirami dan memberinya pupuk dengan ketaatannya kepada Allah, maka sebegitu pulalah buah yang akan dituainya kelak di akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Rasulullah saw. pun menegaskan, “<em>Al iman yaazidu bi thoat wa yanqushu bil maksiat</em>. <span style="color: #0000ff;"><strong>Iman akan bertambah/meningkat dengan ketaatan dan akan berkurang atau menurun dengan kemaksiatan yang dilakukan.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">
<h3 style="text-align: justify;" dir="ltr"><strong>1. Sebab-sebab bertambah dan berkurangnya iman </strong></h3>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Merujuk kepada hadis Nabi saw. di atas, jelas nampak bahwa sebab utama bertambahnya keimanan seseorang adalah jika ia berusaha selalu taat kepada Allah. Allah akan mencintai dan merahmati orang-orang yang taat kepada-Nya dan rasul-Nya (QS 3: 31, 32, 132). Semakin besar ketaatan yang diberikan seseorang kepada Allah apakah itu dalam rangka menuruti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya maka akan semakin meningkatlah kadar keimanannya.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Sebab-sebab yang lainnya yang juga bisa menjaga dan meningkatkan kadar keimanan adalah bila seseorang selalu mengingat Allah dan banyak bersyukur kepada-Nya. Atau bila diberi cobaan berupa musibah tetap sabar dan bersandar pada Allah serta tak pernah berburuk sangka pada-Nya (QS 29: 2) karena cobaan memang secara sunatullah terkait dengan pengujian kadar keimanan.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Ada sebuah siklus positif yang bisa terjadi pada diri seorang mukmin yakni bila ia memiliki keimanan, iman akan mendorongnya taat, menjalankan ibadah kepada Allah sesuai dengan yang dikehendaki-Nya (QS 51: 56). Kemudian ibadah akan menghasilkan ketakwaan dan ketakwaan dengan sendirinya akan meningkatkan keimanan seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Sedangkan sebab menurun atau berkurang dan bahkan hilangnya keimanan seseorang adalah maksiat yang dilakukannya. Semakin banyak kemaksiatan kepada Allah yang dilakukan seseorang akan semakin menurun kadar keimanannya. <strong><span style="color: #0000ff;">Bahkan jika seseorang terjerumus melakukan dosa besar, pada saat ia melakukan maksiat itu dikatakan iman nya habis sama sekali.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Imam Ghazali mengumpamakan hati seseorang seperti lembaran putih bersih. Dosa yang disebabkan maksiat yang dilakukannya akan menyebabkan titik hitam di lembaran putih itu. Semakin banyak dosa kemaksiatan yang dilakukannya, maka lembaran itu akan hitam kelam. Dan hati yang pekat seperti itu tidak lagi sensitif terhadap dosa-dosanya.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Artinya tidak ada perasaan takut atau menyesal pada saat atau sesudah melakukan kemaksiatan. Apabila kemaksiatan yang dilakukan seseorang masih terkatagori <span style="color: #008000;"><em>as sayyiat</em></span> atau dosa kecil, maka kebajikan-kebajikan yang kita lakukan insya Allah akan mengkompensasi dosa dosa kecil tersebut. Dalam hadis Nabi SAW dikatakan, “Bertakwalah kepada Allah di manapun kamu berada dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik. “</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Sementara itu di dalam surat Ali Imran ayat 135 disebutkan ciri orang beriman dan bertakwa adalah bila melakukan kekejian atau menzhalimi diri sendiri (dengan berbuat dosa ) mereka cepat-cepat ingat Allah dan mohon ampunan atas dosa-dosanya Allah Taala memang menyuruh kita bersegera bertobat memohon ampunan dan surga-Nya (QS 3: 133).</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Hal yang harus dipenuhi dalam tobat adalah adanya unsur menyesali maksiat yang dilakukan, kemudian berhenti dan ketika berjanji sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">
<h3 style="text-align: justify;" dir="ltr"><strong>2. Dampak Positif atau Manfaat Kekuatan Iman </strong></h3>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">a.       Memiliki kekuatan hubungan dengan Allah. ”<em>Al-quwwatu silah billah</em>“ (kekuatan hubungan dengan Allah ) adalah buah keimanan yang paling nyata. Karena seorang mukmin yang memiliki kekuatan hubungan dengan Allah tidak akan pernah berputus asa dari rahmat Allah, ia tidak akan karam dalam keputus-asaan. Karena ia akan selalu berpaling kepada Allah. Ia yakin Allah akan selalu menolong dan tidak pernah mengecewakannya. Cobaan sebesar apapun tak pernah membuatnya berburuk sangka terhadap Allah.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">b.       Memiliki ketenangan dan ketenteraman jiwa. Iman yang dimiliki seseorang membuatnya tidak pernah takut pada manusia sepanjang ia tidak melakukan kesalahan. Ia hanya takut kepada Allah saja. Dengan mengingat Allah, hatinya akan senantiasa diliputi ketenteraman dan ketenangan (QS 13:28), sehingga Rasulullah saw. bersabda, “<em>Sungguh menakjubkan urusannya orang beriman, bila diberi karunia ia bersyukur dan itu baik untuknya. Dan bila diberi musibah ia bersabar dan itu lebih baik untuknya.</em>”</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Iman dalam diri seorang mukmin menjadi stabilisator bagi jiwanya. Karunia yang teramat besar tidak akan pernah membuatnya ujub, takabur atau lupa diri melainkan ia tetap tenang dan mengembalikannya kepada Dzat yang Maha memberi: bahwa itu semua karunia Allah. Dan cobaan sebesar dan seberat apapun juga tidak akan membuatnya hilang akal, terguncang jiwanya dan berburuk sangka atau berpaling dari Allah.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">c.       Memiliki kemampuan memikul beban apakah itu beban kehidupan ataupun beban dijalan Allah. Orang yang beriman akan mampu memikul beban kehidupan ataupun beban di jalan Allah tanpa berkeluh kesah. Ia akan berikhtiar semaksimal mungkin dan mengembalikan masalah hasilnya kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Fatimah putri Nabi saw. adalah contoh luar biasa seseorang yang ikhlas dan sanggup memikul beban yang berat. Suatu saat ketika ia bersama bapak dan ibunya serta pengikut –pengikut risalah bapaknya dan juga kaum nya mengalami tahun-tahun sulit masa pemboikotan, ibunda Khadijah sempat dengan sendu berujar kepadanya “Kasihan anakku sekecil ini kau sudah menderita,” jawaban Fatimah benar-benar mencengangkannya, “<em>Ibu …mengapa ibu berkata begitu? cobaan yang lebih berat dari ini pun aku sanggup”</em></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Memiliki ketabahan dan kesabaran dalam menanggulangi musibah. Sesungguhnya setiap mukmin akan dicoba oleh Allah dengan berbagai cobaan keimanan. Dan siapa yang sabar dan mengembalikan segalanya kepada Allah, ia akan diberi kabar gembira berupa, kasih sayang, kesertaan, ampunan dan surganya. Ketabahan dan kesabaran memang tak ada batasnya. Namun balasan dari Allah bagi orang –orang yang sabar pun tak ada batasnya. Tak terhitung dan berlimpah ruah seperti luapan air bah.</p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="ltr">3. Tanda-tanda keimanan</h3>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Bukti keimanan seseorang yang paling nyata tentu saja adalah <strong>amal shaleh</strong> yang dilakukannya dan <em>libasut taqwa</em> (pakaian takwa) yang dikenakannya. Yang membedakan seorang muslim dari kufri adalah <strong>keimanannya kepada hal yang ghaib</strong>. Kemudian juga <strong>shalat</strong> karena dalam hadis dikatakan:<strong>bainal abdi wal kafir tarkus shalat , <em>bainal abdi was syirik tarkus shalat</em></strong><em> </em>(batas antara seorang hamba Allah dengan yang kafir adalah meninggalkan shalat dan batas seorang hamba Allah dengan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat. )</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Di dalam QS 49:15 disebutkan orang yang beriman ialah yang tak pernah sedikit pun ragu terhadap yang diimaninya. Kemudian mampu mengatasi ujian-ujian keimanan dari Allah (QS 29:2) ada satu surat di dalam Al Quran yang berjudul Al-Mu’minun (orang-orang beriman )</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Surat itu merinci karakterikristik orang -orang yang beriman yakni khusyuk dalam shalat, menjauhi perbuatan dan perkataan yang sia-sia, menunaikan zakat, menjaga kemaluannya, menjaga amanah-amanah dan menepati janji serta menjaga shalat-shalatnya.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Orang yang beriman dengan memenuhi kriteria-kriteria di atas akan mewarisi syurga Firdaus dan kekal di dalamnya selama-lamanya.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Ciri mukmin yang lain ada pada QS 48:29, yang bahkan ciri keimanannya itu tampak pula secara fisik berupa dahi yang hitam /berbekas karena selalu bersujud kepada-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Dan akhirnya orang yang istiqamah dalam keimanannya akan selalu memiliki sikap <strong><em>at tafa’ul</em></strong> (optimis), <strong><em>as syajaah</em></strong> (berani), dan <strong><em>ith mi’nan</em></strong><em> </em>(tenang ) dalam kehidupan ini.</p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="ltr">4. Terapi atau cara meningkatkan keimanan</h3>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk meningkatkan keimanan seseorang di antaranya ialah:</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">a.       Shalat tepat waktu dan khusyu, juga memperbanyak shalat nawaafil.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">b.       Shaum. Selain shaum di bulan Ramadhan juga shaum-shaum sunnah seperti Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, Daud, Arafah, dan lain-lain.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">c.       Memperbanyak tilawah quran. Dalam QS 8:2 disebutkan ciri orang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka dan bila dibacakan ayat-ayat Allah bertambah tambahlah keimanan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">d.       Dzikir dan takafur. Rasulullah saw. terlihat menangis ketika turun surat QS 3: 190-191. Bilal lalu bertanya dan beliau menjawab: celakalah orang yang membaca ayat ini namun tak kunjung menarik pelajaran darinya. Dan kedua ayat tersebut berisikan tentang bertakafur terhadap tanda-tanda kekuasaannya.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">e.       Jalasah ruhiah. Acara mabit, menginap, qiamul lail dan sahur bersama untuk kemudian berpuasa dan bila memungkinkan ifthar shaum bersama dengan didahului taujih, ruhiah akan besar efeknya bagi keimanan seseorang. Muadz bin Jabbal dulu acap mengajak sahabat-sahabat yang lain, “<em>ijlis bina‘ nu’minu sa’ah</em>” (duduklah bersama kami, berimanlah sejenak dengan penuh konsentrasi).</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">f.        Dzikrul maut. Mengingat kematian yang pasti datangnya apakah dengan menjenguk dan mentalkinkan orang yang sakaratul maut atau memandikan, mengkafani dan menguburkan maupun ziarah kubur kesemuanya juga dapat meningkatkan keimanan seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">
<h3 style="text-align: left;" dir="ltr"><span style="color: #008000;"><strong>SUPLEMEN</strong></span></h3>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Akidah secara etimologis berarti yang terikat. Dr Abdullah Azzam mendefinisikan istilah akidah sebagai perjanjian yang teguh dan kuat, terpatri dalam hati dan tertanam di lubuk hati yang paling dalam. Sementara Imam Syahid Hasan Al-Banna menjabarkan akidah sebagai urusan yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati menenteramkan jiwa dan menjadi keyakinan yang tidak bercampur dengan keraguan.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Akidah yang diajarkan Rasulullah saw. adalah tauhid dan tujuannya ialah untuk memperkuat ikatan /keyakinan dan hubungan dengan Allah.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Ada dua metode dalam mempelajari akidah atau yang berkaitan dengan masalah keimanan.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">1. Metode <em>asasi</em> yakni metode salafi atau salafus shaleh.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">2. Metode <em>ghairu asasi</em> yakni metode ilmu kalam.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Metode asasi adalah metode yang digunakan kaum salafus shaleh yakni metode yang digunakan di era Rasulullah, di era sahabat, tabi’in dan tabit tabi’in.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Metode ini adalah suatu cara mengenal Allah melalui Allah seperti ungkapan Abu Bakar Sidik, “Kalau Allah tidak memperkenalkan dirinya kepadaku niscaya aku tidak mengenalnya”.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Metode ini merupakan metode ahlus sunnah wal jama’ah dan metode yang kamil serta syamil.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Sementara metode kedua adalah metode ghairu asasi yang lebih dikenal sebagai metode ilmu kalam yakni menggunakan upaya pendekatan filosofis dan daya nalar dalam masalah keimanan atau akidah.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Metode ilmu kalam terbukti tidak dapat memberi atsar atau pengaruh keimanan bagi orang yang mempelajarinya juga tidak bisa menuntun kepada perilaku atau akhlak yang islami. Dan bukannya membuat kita semakin yakin malah semakin ragu kepada Allah dan Risalahnya.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Tokoh-tokoh ilmu kalam adalah Abul Hasan Al-Asyhari, Imam Ar-Razi dan Imam Al-Juwairi, namun mereka akhirnya insaf dan menyadari bahwa metode paling efektif dalam mempelajari dan menanamkan keimanan adalah metode Al-Qur’an dan Al-Sunnah.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr"><strong><em>Wallahu a’lam</em></strong></p>
<h5 style="text-align: justify;" dir="ltr">Sumber :  <a href="http://heruhikmah.multiply.com/journal/item/2/DINAMIKA_IMAN" target="_blank">Ekspresi-ekspresi Penggugah Inspirasi</a><strong><br />
</strong></h5>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailmusa.net/dinamika-iman.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perintah Mensucikan Hati</title>
		<link>http://ismailmusa.net/perintah-mensucikan-hati.html</link>
		<comments>http://ismailmusa.net/perintah-mensucikan-hati.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 02:44:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Musa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyah dan Tarqiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Katsir]]></category>
		<category><![CDATA[Mensucikan hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailmusa.net/perintah-mensucikan-hati.html</guid>
		<description><![CDATA[
Allah berfirman yang artinya, “(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. asy-Syu’ara: 88-89)

Ibnu Katsir berkata, “‘(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna’ Artinya, harta seseorang tidak akan bisa menjaga diri orang tersebut dari azab Allah, walaupun dia menebusnya dengan emas seluas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman yang artinya,<em> “(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”</em> <strong>(QS. asy-Syu’ara: 88-89)</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Katsir berkata, “<em>‘(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna’</em> Artinya, harta seseorang tidak akan bisa menjaga diri orang tersebut dari azab Allah, walaupun dia menebusnya dengan emas seluas dan sepenuh bumi. <em>‘Dan tidak pula anak-anak laki-laki’</em>, artinya tidak pula bisa menghindarkan dirinya dari azab Allah, walaupun dia menebus dirinya dengan semua manusia yang bisa memberikan manfaat kepadanya. Yang bermanfaat pada hari kiamat hanyalah keimanan kepada Allah dan memurnikan peribadatan hanya untuk-Nya, serta berlepas diri dari kesyirikan dan dari para pelakunya. Oleh karena itu, Allah kemudian berfirman, <em>‘Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.’</em> Yaitu, hati yang terhindar dari kesyirikan dan dari kotoran-kotoran hati.”</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-341"></span>Imam asy-Syaukani berkata, “Harta dan kerabat tidak bisa memberikan manfaat kepada seseorang pada hari kiamat. Yang bisa memberikan manfaat kepadanya hanyalah hati yang selamat. Dan hati yang selamat dan sehat adalah hati seorang mukmin yang sejati.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ayat-Ayat yang Lain</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.”</em> (QS. ash-Shaffat: 84)</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata di dalam tafsirnya, “Yakni dia datang menghadap Allah dengan membawa hati yang selamat dari kesyirikan, syubhat-syubhat, dan syahwat-syahwat yang bisa menghalanginya dari mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Apabila hati seorang hamba telah selamat dari hal-hal di atas, maka hati tersebut akan terhindar dari segala keburukan-keburukan, dan sebaliknya hati tersebut akan memunculkan kebaikan-kebaikan. Dan di antara bentuk keselamatan hati adalah bahwa ia selamat dari perbuatan menipu daya manusia, serta selamat dari hasad dan dari berbagai bentuk akhlak yang tercela.”</p>
<p style="text-align: justify;">2. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan ada kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.’”</em> (QS. al-Hasyr: 10)</p>
<p style="text-align: justify;">Imam asy-Syaukani berkata tentang ayat di atas yang maknanya bahwa yang dimaksud orang-orang yang datang setelah para sahabat adalah semua orang yang mengikuti mereka sampai hari kiamat. Dalam ayat ini Allah memerintahkan mereka untuk memohon ampunan untuk diri mereka sendiri dan juga untuk para pendahulu mereka yang telah mendahului mereka dalam beriman. Allah juga memerintahkan mereka untuk berdoa kepada-Nya agar dihilangkan dari hati mereka perasaan ghill, yaitu rasa dendam, dongkol, dan dengki terhadap kaum mukminin -dan tentunya yang menduduki peringkat utama dalam golongan kaum mukminin adalah para sahabat karena merekalah generasi paling mulia dari umat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Doa ini berlaku secara umum untuk semua kaum mukminin baik dari kalangan sahabat atau umat sebelum sahabat atau generasi-generasi setelah sahabat. Dan ini termasuk di antara keutamaan-keutamaan iman, yaitu bahwa kaum mukminin itu saling memberi manfaat satu sama lain, saling mendoakan satu sama lain. Semua itu karena adanya kebersamaan dalam keimanan yang berimplikasi adanya ikatan ukhuwwah antar mukmin, yang di antara cabangnya adalah saling mendoakan dan saling mencintai antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, Allah menyebutkan dalam doa tersebut permintaan dihilangkannya rasa ghill dari hati mereka, sedikit ataupun banyak. Apabila sifat ghill tersebut telah hilang dari hati, maka akan muncul sifat yang menjadi lawan dari sifat tersebut, yaitu rasa cinta antara sesama mukmin, saling menolong dan menasehati, serta sifat-sifat terpuji lainnya yang termasuk hak-hak orang mukmin yang harus ditunaikan.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hadits-Hadits Rasulullah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, beliau berkata, <em>“Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, ‘Siapakah orang yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Setiap orang yang bersih hatinya dan benar ucapannya.’ Para sahabat berkata, ‘Orang yang benar ucapannya telah kami pahami maksudnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?’ Rasulullah menjawab, ‘Dia adalah orang yang bertakwa (takut) kepada Allah, yang suci hatinya, tidak ada dosa dan kedurhakaan di dalamnya serta tidak ada pula dendam dan hasad.’” </em>(Dikeluarkan oleh Ibnu Majah 4216 dan Thabarani, dan dishahihkan oleh Imam Albani di dalam <em>Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah</em>)</p>
<p style="text-align: justify;">2. Diriwayatkan dari an-Nu’man bin Basyir, dia berkata, <em>“Rasulullah bersabda, ‘… Ketahuilah sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal darah. Apabila dia baik, maka menjadi baik pula semua anggota tubuhnya. Dan apabila rusak, maka menjadi rusak pula semua anggota tubuhnya. Ketahuilah dia itu adalah hati.’”</em> (Muttafaq ‘alaihi)</p>
<p style="text-align: justify;">3. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, beliau berkata, <em>“Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah. Tiba-tiba beliau berkata, ‘Akan lewat di hadapan kalian saat ini seorang calon penghuni surga.’ Lalu lewatlah seorang pemuda Anshar dalam keadaan dari jenggotnya menetes sisa-sisa air wudhu dan tangan kirinya menenteng sandal. Pada keesokan harinya, Rasulullah bersabda lagi persis sebagaimana sabdanya kemarin, lalu lewatlah pemuda tersebut dengan keadaan persis dengan keadaannya yang kemarin. Dan pada hari yang ketiga Rasulullah mengulang lagi sabdanya seperti sabdanya yang pertama dan pemuda itu pun muncul lagi dengan keadaan seperti keadaannya yang pertama. Maka, ketika Rasulullah beranjak pergi, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash segera mengikuti pemuda tersebut (ke rumahnya), lalu berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya antara aku dan bapakku telah terjadi perselisihan, maka aku bersumpah tidak akan masuk ke rumahnya selama 3 hari. Jika engkau tidak keberatan, aku ingin menumpang padamu selama 3 hari tersebut.’ Pemuda tersebut berkata, ‘Ya, tidak apa-apa.’”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Anas berkata, <em>“Maka Abdullah menceritakan bahwa selama 3 hari bersama pemuda tersebut, dia tidak melihatnya melakukan qiyamul lail (shalat malam) sedikitpun. Yang dia lakukan hanyalah bertakbir dan berzikir setiap kali dia terjaga dan menggeliat di atas tempat tidurnya sampai dia bangun untuk shalat shubuh. Selain itu, Abdullah berkata, ‘Hanya saja, aku tidak pernah mendengarnya berbicara kecuali yang baik-baik. Setelah 3 hari berlalu dan hampir saja aku meremehkan amalannya, aku berkata kepadanya, ‘Wahai hamba Allah, sebenarnya tidak pernah ada pertengkaran antara aku dengan bapakku, dan tidak pula aku menjauhinya. Sebenarnya, aku hanya mendengar Rasulullah berkata tentang engkau tiga kali, ‘Akan muncul di hadapan kalian saat ini seorang laki-laki calon penghuni surga.’ Dan ternyata engkaulah yang muncul sebanyak 3 kali itu. Karena itu, aku jadi ingin tinggal bersamamu agar aku bisa melihat apa yang engkau lakukan untuk kemudian aku tiru. Akan tetapi, aku tidak melihat engkau melakukan amalan yang besar. Lantas, amalan apa sebenarnya yang bisa menyampaikan engkau kepada kedudukan sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah?’ Orang tersebut berkata, ‘Aku tidak melakukan kecuali apa yang kamu lihat.’ Maka ketika aku telah berpaling (pergi), dia memanggilku dan berkata, ‘Sebenarnyalah aku memang tidak melakukan apa-apa selain yang engkau lihat. Hanya saja, selama ini aku tidak pernah merasa dongkol dan dendam kepada seorang pun dari kaum muslimin, serta tidak pernah menyimpan rasa hasad terhadap seorang pun terhadap kebaikan yang telah Allah berikan kepadanya.’ Maka Abdullah berkata, ‘Inilah amalan yang membuatmu sampai pada derajat tinggi, dan inilah yang tidak mampu kami lakukan.’”</em> (HR. Ahmad)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Perkataan Para Salaf</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Abu Dujanah berkata, “Tidak ada sebuah amalan yang paling aku yakini bisa memberi manfaat bagiku di akhirat selain dua perkara. Yang pertama, aku tidak pernah berbuat sesuatu yang tidak bermanfaat bagiku. Dan yang kedua, selamatnya hatiku terhadap kaum muslimin.” (<em>Siyar A ‘lam an-Nubala’</em> I/243).</p>
<p style="text-align: justify;">2. Sufyan bin Dinar berkata, “Aku berkata kepada Abu Bisyr -dan dia termasuk di antara murid-murid Ali bin Abu Thalib-, ‘Beri tahu kepadaku amalan-amalan orang-orang sebelum kita.’ Dia berkata, ‘Mereka sedikit beramal tetapi mendapatkan pahala yang banyak.’ Aku berkata, ‘Mengapa bisa demikian?’ Dia berkata, ‘Karena selamatnya (bersihnya) hati mereka.’” (<em>Az-Zuhud</em> II/600).</p>
<p style="text-align: justify;">3. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Tidak akan bisa mengejar kami orang yang mengejar dengan memperbanyak puasa dan shalat, akan tetapi kami hanya bisa dikejar dengan bermurah hati dan selamatnya hati dan memberi nasehat kepada umat.” (<em>Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam</em> I/225).</p>
<p style="text-align: justify;">4. Ibnul Qayyim berkata, “Jadi, hati adalah ibarat raja bagi anggota tubuh. Anggota tubuh akan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh hati dan akan menerima semua arahan-arahan hati. Anggota tubuh tidaklah akan melaksanakan sesuatu kecuali yang berasal dari tujuan dan keinginan hati. Jadi, hati tersebut merupakan penanggung jawab mutlak terhadap anggota tubuh karena seorang pemimpin akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Jika demikian adanya, maka upaya memberi perhatian yang besar terhadap hal-hal yang menyehatkan hati dan meluruskannya merupakan upaya yang terpenting, dan memperhatikan penyakit-penyakit hati serta berusaha untuk mengobatinya merupakan ibadah yang paling besar.” (<em>Ighatsah al-Lahfan</em> halaman 5).</p>
<p style="text-align: justify;">Di tempat yang lain beliau berkata, “Jenis hati yang ketiga adalah hati yang sakit, yaitu hati yang hidup namun berpenyakit. Dengan begitu, di dalam hati tersebut terdapat dua unsur, di mana unsur yang pertama terkadang mengalahkan yang kedua dan begitu pula sebaliknya. Sedangkan hati sendiri akan mengikuti yang menang di antara keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam hati tersebut terdapat perasaan cinta dan iman kepada Allah, ikhlas dan bertawakkal hanya kepada-Nya. Semua itu merupakan unsur kehidupan hati. Namun, di dalam hati tersebut juga terdapat perasaan cinta kepada syahwat, lebih mementingkan syahwat dan berupaya untuk memperturutkannya, dan terdapat pula rasa hasad, sombong, ujub, dan ambisi untuk menjadi orang yang paling unggul, serta bertindak semena-mena di muka bumi dengan kekuasaan yang dimiliki. Semua itu merupakan unsur yang akan membuat diri hancur dan binasa.”</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau juga berkata, “Karena itu, surga tidak bisa dimasuki oleh orang-orang yang berhati kotor, dan tidak pula bisa dimasuki oleh orang yang di hatinya terdapat noda-noda dari kotoran tersebut. Barangsiapa yang berusaha untuk mensucikan hatinya di dunia, lalu menemui Allah (mati) dalam keadaan bersih dari najis-najis hati, maka dia akan memasuki surga tanpa penghalang. Adapun tentang orang yang belum membersihkan hatinya selama di dunia, maka jika najis hati tersebut najis murni -seperti hatinya orang-orang kafir-, maka dia tidak bisa masuk surga sama sekali. Dan jika najis tersebut sekadar noda-noda yang mengotori hati, maka dia akan memasuki surga tersebut setelah dia disucikan di dalam neraka dari najis-najis tersebut.”</p>
<p style="text-align: justify;">5. Ibnu Qudamah berkata, “Dan ketahuilah bahwasanya Allah apabila menghendaki kebaikan pada seseorang, maka dia akan dibuat mengetahui aibnya. Barangsiapa yang mempunyai mata hati yang tajam, maka tidak akan tersembunyi baginya aib-aib dirinya, dan apabila dia telah mengenali aib-aibnya, maka memungkinkan baginya untuk mengobatinya penyakit-penyakit tersebut. Sayangnya, kebanyakan manusia tidak mengenal aib-aib dirinya sendiri. Mereka bisa melihat kotoran yang ada di mata saudaranya, tetapi tidak bisa melihat anak sapi yang ada di matanya sendiri.”</p>
<p style="text-align: justify;">Di tempat yang lain beliau berkata, “Barangsiapa yang mengenal hatinya, maka dia akan mengenal Rabbnya. Sayangnya, kebanyakan manusia tidak mengenali dirinya sendiri. Allah-lah yang menghalangi antara seseorang dengan hatinya, dan penghalang tersebut berupa ketidakmampuan seseorang mengenali hatinya dan terhalangnya dirinya dari mengawasi hatinya, padahal mengenali hati dan sifat-sifatnya adalah merupakan pokok agama.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Penutup</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kita akhiri pembahasan ini dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah: <em>Allohumma aati nafsii taqwaahaa wa zakkihaa anta khoiru man zkkaahaa. Aamiin. “Ya Allah, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku dan bersihkanlah ia karena Engkaulah sebaik-baik zat yang bisa membersihkannya.” Amin.</em></p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: Majalah Fatawa<br />
Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailmusa.net/perintah-mensucikan-hati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adab Hari Jum&#8217;at Sesuai Sunnah</title>
		<link>http://ismailmusa.net/adab-hari-jumat-sesuai-sunnah.html</link>
		<comments>http://ismailmusa.net/adab-hari-jumat-sesuai-sunnah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 02:27:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Musa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab dan Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[Jum'at]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailmusa.net/?p=338</guid>
		<description><![CDATA[Hari Jumat adalah salah satu hari yang istimewa bagi kaum muslimin, Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan petunjuk pada kita tentang amalan di hari Jumat. Tapi awas, jangan sampai kita beramal dengan perkara yang tidak ada contohnya dari Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Penyusun: Abu Abdirrohman Bambang Wahono (Bulletin At-Tauhid)
Hari Jumat adalah hari yang mulia, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">Hari Jumat adalah salah satu hari yang istimewa bagi kaum muslimin, Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan petunjuk pada kita tentang amalan di hari Jumat. Tapi awas, jangan sampai kita beramal dengan perkara yang tidak ada contohnya dari Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam.</div>
<div style="text-align: justify;"><span id="more-338"></span></div>
<div style="text-align: justify;">Penyusun: Abu Abdirrohman Bambang Wahono (Bulletin At-Tauhid)</div>
<div style="text-align: justify;">Hari Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rosululloh dan sahabatnya, bagaimana seharusnya msenyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Alloh ta’ala. Berikut ini beberapa adab yang harus diperhatikan bagi setiap muslim yang ingin menghidupkan syariat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jumat:</div>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Memperbanyak Sholawat Nabi</strong><br />
Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, ”Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata :” Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah? Nabi bersabda:”Sesungguhnya Alloh mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)</li>
<li><strong>Mandi Jumat</strong><br />
Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang balig berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rosululloh bersabda yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang balig” (HR. Bukhori dan Muslim). Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah balig, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi janabah biasa. Rosululloh bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi Jumat seperti mandi janabah…” (HR Bukhori dan Muslim)</li>
<li><strong>Menggunakan Minyak Wangi</strong><br />
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, ”Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya”. (HR Bukhori dan Muslim)</li>
<li><strong>Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid</strong><br />
Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhori). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, ”Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat”Fathul Bari” II/388)</li>
<li><strong>Sholat Sunnah Ketika Menunggu Imam atau Khatib</strong><br />
Abu Huroiroh rodhiallohu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari”. (HR. Muslim)</li>
<li><strong>Tidak Duduk dengan Memeluk Lutut Ketika Khatib Berkhotbah</strong><br />
Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rosululloh melarang Al Habwah (duduk sambil memegang lutut) pada saat sholat Jumat  ketika imam sedang berkhotbah.” (Hasan. HR Abu Dawud, Turmidzi)</li>
<li><strong>Sholat Sunnah Setelah Sholat Jumat</strong><br />
Rosululloh bersabda yang artinya, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR Muslim, Turmudzi)</li>
<div><strong>Membaca Surat Al Kahfi</strong></div>
<li>Nabi bersabda yang artinya, ”Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Alloh akan meneranginya di antara dua Jumat”. (HR Imam Hakim dalam Mustadrok, dan beliau menshahihkannya)</li>
</ol>
<div style="text-align: justify;">Demikianlah sekelumit etika yang seharusnya diperhatikan bagi setiap muslim yang hendak menghidupkan ajaran Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika di hari Jumat. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang senantiasa di atas sunnah Nabi-Nya dan selalu istiqomah di atas jalan-Nya. (Di sarikan dari majalah Al Furqon edisi 8 tahun II oleh Abu Abdirrohman Bambang Wahono)&#8230;Sumber:www.muslim.or.id</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailmusa.net/adab-hari-jumat-sesuai-sunnah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syiah dan Sunni</title>
		<link>http://ismailmusa.net/syiah-dan-sunni.html</link>
		<comments>http://ismailmusa.net/syiah-dan-sunni.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 08:50:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Musa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sunni]]></category>
		<category><![CDATA[Syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailmusa.net/?p=335</guid>
		<description><![CDATA[Sudah sejak lama permasalahan Sunni (sunnah) versus Syiah menjadi ajang debat dan bahkan akhir-akhir ini sudah ada kelompok-kelompok yang mengkafirkan salah satu pihak. Masing-masing punya pendirian dan merasa benar, saling mengemukakan latar belakang sejarah disertai dalil-dalil hadisnya.
Secara umum, ISU perbedaan antara sunni dan syiah yang sering kita dengar yaitu terletak pada masalah aqidah. Syiah &#38; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sudah sejak lama permasalahan Sunni (sunnah) versus Syiah menjadi ajang debat dan bahkan akhir-akhir ini sudah ada kelompok-kelompok yang mengkafirkan salah satu pihak. Masing-masing punya pendirian dan merasa benar, saling mengemukakan latar belakang sejarah disertai dalil-dalil hadisnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-335"></span>Secara umum, ISU perbedaan antara sunni dan syiah yang sering kita dengar yaitu terletak pada masalah aqidah. Syiah &amp; pengikutnya, menurut banyak kalangan, lebih memuliakan khalifah Ali bin Abi Thalib. Sedangkan sunni merupakan pengikut sunnah Nabi Muhammad SAW sehingga lebih memuliakan beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Perbedaan  tersebut sudah lama sekali diisukan dan menyebar ke seantero dunia, tanpa melihat atau mengetahui pihak mana yang sebenarnya (mengadu-domba) dengan membesar-besarkan perbedaan antar kedua kubu tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dasar/asal mula perbedaan utamanya adalah siapa yang lebih pantas menjadi panutan/pimpinan sepeninggal Nabi agama tersebut. Berikut adalah kutipan dari Wikipedia Indonesia :</p>
<hr style="text-align: justify;" size="2" />
<p style="text-align: justify;">Muslim Syi&#8217;ah percaya bahwa  Keluarga Muhammad SAW SAW (yaitu para Imam Syi&#8217;ah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Qur&#8217;an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah Nabi Muhammad SAW SAW, dan pembawa serta penjaga terpercaya dari tradisi Sunnah.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara khusus, Muslim Syi&#8217;ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Muhammad SAW dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad SAW, yang berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni. Muslim Syi&#8217;ah percaya bhw Ali dipilih melalui perintah langsung oleh Nabi Muhammad SAW, dan perintah Nabi berarti wahyu dari Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Abu Bakar menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi&#8217;ah dan Sunni dalam penafsiran Al Qur&#8217;an, Hadits, mengenai Sahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadits dari Muslim Syi&#8217;ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah ra tidak dipergunakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa memperhatikan perbedaan tentang khalifah, Syi&#8217;ah mengakui otoritas Imam Syi&#8217;ah (juga dikenal dengan Khalifah Illahi) sebagai pemegang otoritas agama.</p>
<hr size="2" />
<p style="text-align: justify;"><strong>Anda Sunni atau Syi’ah ?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Anda Muslim? Bila jawaban anda adalah ‘Ya!’ dan anda berada di Indonesia, orang yang bertanya kepada anda mungkin tak akan memberikan pertanyaan susulan yang berhubungan. Namun bila anda diberi pertanyaan macam ini di Libanon atau Suriah dan jawaban anda sama [‘Ya!’], sebuah pertanyaan susulan mungkin akan mengemuka: ‘Anda Sunni atau Syi’ah?’</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kita berbicara tentang Sunni dan Syi’ah, rasanya pembiacaraan ini bagai mengupas sebuah kubis: semakin dalam anda kupas, maka anda tak kunjung menemukan ujungnya, bahkan hingga kubis yang anda kupas habis hingga lembaran terakhir. Perdebatan antara Sunni dan Syi’ah telah berlangsung sejak Abad ke-8 dan tak pernah menemukan ujungnya hingga Abad ke-21 sekarang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Randy Pausch pernah berkata bahwa dalam hidup ini, 10 persen adalah hitam, 10 persen lainnya putih, dan 80% adalah abu-abu. Bila kita mencoba menarik garis pemisah antara Sunni dan Syi’ah, maka sebenarnya warna dominan abu-abu yang 80% itu memang melekat kepada keduanya. Nyaris tak ada perbedaan dalam garis besar akidah maupun ibadah. Lantas mengapa Umat Islam terpecah ke dalam dua golongan?</p>
<p style="text-align: justify;">Walau saat ini kita tahu bahwa perbedaan yang sedikit antara Sunni dan Syiah adalah fundamental –yakni menyangkut akidah dan ideologi, namun akar masalahnya sendiri ternyata hanya sekedar masalah politik yang sepele. Ketika arus politik Islam pada Abad ke-7 mengalir ke dua cabang, umat dipaksa untuk memilih: BERPIHAK KEPADA ALI BIN ABU THALIB ATAU KEPADA MU’AWIYAH BIN ABU SUFYAN.</p>
<p style="text-align: justify;">
Ali bin Abu Thalib jelas tak bersalah bila sebagian umat pendukungnya kemudian tiba-tiba saja mengembangkan teologi sendiri yang melahirkan aliran Syi’ah.  Sebuah pelajaran berharga dapat dipetik. Pelajaran itu berada pada kisaran bagaimana <strong>politik dan sikap politik dapat memecah kesatuan umat dan berujung pada rusaknya akidah sebagian umat.</strong></p>
<p>Fenomena pertentangan politik yang berujung pada kerusakan akidah pun bisa terjadi pada masa-masa pasca lahirnya Syi’ah. Gerakan Ahmadiyyah di Qadian tak akan lahir tanpa adanya pertentangan antar Umat Islam Hindustan yang berjuang melepaskan diri dari penjajahan Inggris dengan saudara-saudaranya yang memihak Inggris. Seperti telah kita ketahui, orang-orang Ahmadiyyah adalah para komprador Inggris di tanah Hindustan.</p>
<p style="text-align: justify;">Maraknya kemunculan nabi-nabi palsu di zaman sekarang pun tak lepas dari faktor politik. Misalnya di Indonesia: Sistem politik yang dianut Indonesia mengarahkan masyarakat untuk menjadi kapitalis. Dalam tatanan masyarakat kapitalis, sebagian orang akan menjadi sangat kaya (golongan konglomerat) dan sebagaian lainnya akan ‘dipaksa’ untuk miskin. Kemiskinan di tengah ketiadaan harapan akan masa depan yang jelas menjadikan manusia mencari solusi-solusi instan yangdapatmelepaskan diri mereka dari jeratan kemiskinan. Sekularisme yang menjauhkan masyarakat dari Agama menjadi paket adisional bagi kapitalisme, sehingga spiritualisme masyarakat pun jatuh ke titik terrendah. Kondisi inilah yang menjadi sebab utama mengapa nabi-nabi palsu selalu memiliki pengikut –walau dalam jumlah sedikit.</p>
<p>Andai Allah memiliki jari, pasti saat ini telunjuknya tengah mengarah ke dada para politisi. Para politisi, penguasa, pengambil kebijakan, dan juga para pengikut garis politik tertentu harus berhati-hati. Silang pendapat dan sengketa antar mereka dapat melahirkan implikasi besar yang akibatnya mungkin tak akan hilang dalam hitungan hariatau pekan, namun hingga berabad-abad setelahnya, seperti dalam kasus Sunni Vs. Syi’ah. Dalam kasus Sunni Vs. Syi’ah, kita pun dapat belajar bahwa kedahsyatan pertentangan politik tak hanya akan memberikan dampak kepada kehidupan sosial, namun juga spiritual.</p>
<hr size="2" />
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Isu Pertentangan Sunni versus Syiah di Irak</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://indonesian.irib.ir/khabar/rabu.htm#Wawancara">IRIB Bahasa Indonesia</a> =&gt; Pasca eksekusi Saddam Husein, media-media Barat dan juga sejumlah media Arab yang ‘terkait’ dengan Barat sangat gencar memunculkan isu pertentangan Sunni-Syiah di Irak. Saddam, mantan diktator Irak yang pernah membantai ratusan ribu warga Sunni Halabja, Kurdi, dalam operasi Al-Anfal tahun 1988, tiba-tiba diposisikan sebagai pahlawan Sunni, hanya gara-gara ia divonis hukuman mati akibat kejahatannya membantai 148 warga Syiah di Desa Ad-Dujail; atau karena pemerintahan di Irak saat ini di bawah kendali kelompok Syiah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedemikian gencarnya propaganda media Barat itu sampai-sampai banyak kalangan muslim di Indonesia ikut-ikutan termakan isu tersebut. Kolom opini Republika menurunkan tulisan yang menyatakan bahwa banyak informasi yang diungkap dalam banyak media Arab dan tokoh-tokoh Sunni Irak serta fakta yang diangkat konsorsium organisasi Irak yang menyebutkan, tidak kurang dari 1.140 kasus penculikan wanita Sunni terjadi dalam setahun. Sekitar 150 orang dibebaskan, 200 wanita belum diketahui nasib mereka, dan ratusan lainnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dituliskan juga bahwa studi ini bahkan menyimpulkan, 85 persen operasi pembantaian terhadap Sunni di Irak dewasa ini terindikasi adanya peran Teheran dalam menyokong milisi yang berkoalisi dengan pasukan Amerika. Mereka menghabisi para kelompok Sunni yang berada di garda terdepan melakukan perlawanan terhadap penjajahan Irak. Dalam catatan studi tersebut tidak kurang dari 1.500 personel dari pasukan pengawal revolusi Iran bergabung dalam milisi Badar, milisi Muqtada Sadr, yakni pasukan keamanan bentukan Kementerian Dalam Negeri dan aparat intelijen Irak.</p>
<p style="text-align: justify;">Sulit bagi kita untuk tidak prihatin dengan tulisan-tulisan semacam ini. Data-data yang dibuat, bukan hanya mengabaikan prinsip konfirmatif, yaitu berupaya mencari informasi dari pihak lain, melainkan malah menutup-nutupi fakta lain yang justru menunjukkan bahwa jumlah warga Syiah yang tewas dan menjadi korban akibat berbagai aksi teror di Irak sejak aksi pendudukan AS ini juga sangat besar. Akan tetapi, kelompok Syiah yang berkuasa di Irak, maupun pemerintah Iran<strong>, TIDAK PERNAH MENUDING ORANG-ORANG SUNNI SEBAGAI PELAKUNYA</strong>. Menurut <strong>Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Al-Uzhma Sayid Ali Khamenei</strong>, dalam pidatonya di depan para ulama Sunni dan Syiah, pelaku aksi teror di Irak, bukanlah Sunni atau Syiah, melainkan mereka yang merupakan kaki tangan kaum IMPERIALIS YANG INGIN MEMECAH-BELAH PERSATUAN UMMAT ISLAM.</p>
<p style="text-align: justify;">Saudaraku, Ingatlah bahwasanya Allah SWT melarang ummat Islam bercerai-berai:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em> &#8220;Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan <strong>janganlah kamu bercerai berai, </strong>dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu,.. &#8220;</em>(QS. Ali Imron : 103)</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailmusa.net/syiah-dan-sunni.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dosa-dosa Berbohong</title>
		<link>http://ismailmusa.net/dosa-dosa-berbohong.html</link>
		<comments>http://ismailmusa.net/dosa-dosa-berbohong.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 12:35:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismail Musa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Berbohong]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa berdusta]]></category>
		<category><![CDATA[Dusta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailmusa.net/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[Di era globalisasi sekarang ini, kebohongan dan kepalsuan telah menjalar dan menjadi borok di segala lapisan masyarakat. Bahkan di Amerika berdasarkan sebuah survey terpercaya, didapatkan angka 91% dari warganya terbiasa berbohong. Sebagian umat Islam-pun ada yang kecanduan dengan sikap tercela ini. Tulisan di bawah ini, mudah-mudahan menguatkan kita untuk menghindari kebiasaan tercela tersebut.

Allah Ta&#8217;ala telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Di era globalisasi sekarang ini, kebohongan dan kepalsuan telah menjalar dan menjadi borok di segala lapisan masyarakat. Bahkan di Amerika berdasarkan sebuah survey terpercaya, didapatkan angka 91% dari warganya terbiasa berbohong. Sebagian umat Islam-pun ada yang kecanduan dengan sikap tercela ini. Tulisan di bawah ini, mudah-mudahan menguatkan kita untuk menghindari kebiasaan tercela tersebut.<br />
<span id="more-333"></span><br />
Allah Ta&#8217;ala telah menjadikan umat Islam bersih dalam kepercayaan, segala perbuatan dan perkataannya. Kejujuran adalah barometer kebahagiaan suatu bangsa. Tiada kunci kebahagiaan dan ketentraman haqiqi melainkan bersikap jujur, baik jujur secara vertikal maupun horizontal.</p>
<p>Kejujuran merupakan nikmat Allah Ta&#8217;ala yang teragung setelah nikmat Islam, sekaligus penopang utama bagi berlang-sungnya kehidupan dan kejayaan Islam. Sedangkan sifat bohong merupakan ujian terbesar jika menimpa seseorang, karena kebohongan merupakan penyakit yang menggerogoti dan menghancurkan kejayaan Islam.</p>
<p>Dusta merupakan dosa dan aib besar, Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<blockquote style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.&#8221; (Al-Isra&#8217;: 36)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dari Ibnu Mas&#8217;ud Radhiallahu &#8216;Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam bersabda:</p>
<blockquote style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #008000;"><em>&#8220;Sesungguhnya jujur itu menunjukkan kepada kebaikan, sedangkan kebaikan menuntun menuju Surga. Sungguh seseorang yang membiasakan jujur niscaya dicatat di sisi Allah sebagai orang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada kemungkaran, sedangkan kemungkaran menjerumuskan ke Neraka. Sungguh orang yang selalu berdusta akan dicatat sebagai pendusta&#8221;. </em></span>(HR. Al-Bukhari dan Muslim ) </strong></p>
</blockquote>
<h3 style="text-align: justify;"></h3>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>Faktor-Faktor Pendorong Terjadinya Dusta </strong></h3>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Tipisnya rasa takut kepada Allah Ta&#8217;ala.</li>
<li>Usaha memutarbalikkan fakta dengan berbagai motifnya; baik untuk melariskan barang dagangan, melipatganda-kan keuntungan atau yang lain.</li>
<li>Mencari perhatian, seperti ikut dalam seminar dan diskusi dengan membawakan trik-trik dan kisah-kisah bohong menarik supaya para peserta terpesona.</li>
<li>Tiadanya rasa tanggung jawab dan berusaha lari dari kenyataan hidup.</li>
<li>Kebiasaan berdusta sejak kecil, baik karena pengaruh kebiasaan orang tua atau lingkungan tempat tinggalnya.</li>
<li>Merasa bangga dengan kebohong-annya, karena ia menganggap kebohongan itu suatu kecerdikan, kecepatan daya nalar dan perbuatan baik.</li>
</ul>
<h3 style="text-align: justify;"></h3>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>Dusta dalam Kenyataan Sehari-hari yang Harus Dihindari </strong></h3>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Ungkapan seseorang: <em>&#8220;Telah saya katakan kepadamu seribu kali, masa belum paham juga.&#8221;</em> Ungkapan di atas tidak menunjukkan jumlah bilangannya, tetapi untuk menguatkan maksud. Jika ia hanya mengatakannya sekali, maka ia telah berdusta. Tetapi jika ia mengatakannya berkali-kali walaupun belum sampai hitungan seribu kali, maka ia tidak berdosa. Contoh lain, seseorang berkata kepada temannya: &#8220;Silakan dimakan,&#8221; lalu dijawab: &#8220;Terimakasih, saya sudah kenyang atau saya tidak bernafsu.&#8221; Hal-hal semacam itu dilarang (haram) jika tidak mengandung tujuan yang benar.  Ahli wira&#8217;i (orang-orang yang senantiasa memelihara dirinya dari unsur haram) sangat membenci basa-basi semacam ini.</li>
<li>Berdusta dalam memberitakan mimpi, padahal dosanya besar sekali. Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam bersabda:</li>
</ul>
<blockquote style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><strong>&#8220;Sesungguhnya di antara kebohongan terbesar adalah seseorang yang mengaku (bernasab) kepada selain bapaknya, atau bercerita tentang mimpi yang tak pernah ia lihat, serta meriwayatkan atas Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam sesuatu yang tidak pernah beliau katakan.&#8221; </strong>(HR. Al Bukhari)</p>
</blockquote>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Mengelabui anak kecil dengan memanggilnya untuk diberi sesuatu, padahal ia tidak memiliki apa-apa. Misalnya, seseorang berkata: &#8220;Nak kemari, bantu bapak ya, nanti bapak kasih duit,&#8221; tetapi kemudian ia tidak memberinya apa-apa.</li>
<li>Menceritakan segala hal yang ia dengar.<em>&#8221; Cukuplah seseorang disebut pendusta, jika ia menceritakan segala hal yang ia dengar.&#8221;</em> (HR. Muslim. Padahal sangat mungkin terjadi kekeliruan dalam pemberitaannya, karena ia tidak mengecek terlebih dahulu, tapi biasanya ia berdalih: &#8220;Ini berdasarkan yang saya dengar.&#8221; Bagaimana jika berita itu tentang tuduhan zina? Apa ia tetap menyebarluaskannya tanpa bukti yang nyata? Adakah di antara kita rela didakwa zina semacam ini?</li>
<li>Berkata atau bercerita bohong yang lucu, agar massa pendengarnya tertawa. <em>&#8220;Neraka Wail (kehancuran) bagi orang yang berbicara kemudian berdusta supaya pendengarnya tertawa. Wail baginya, sungguh Wail sangat pantas baginya.&#8221; </em>(HR. Bazzar)</li>
</ul>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>Terapi Penyembuhan Penyakit Tercela Ini </strong></h3>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda ingin mengerti keburukan sifat dusta dari dirimu sendiri, maka perhatikan kebohongan orang lain, niscaya Anda membencinya, merendahkan dan mengecamnya. <strong>Setiap muslim wajib memperbaharui taubat dirinya dari segala dosa dan kesalahan</strong>. Demikian pula ia wajib mencari dan memelihara berbagai macam sebab yang bisa membantunya dalam meninggalkan dan menjauhi sifat yang tidak terpuji ini.</p>
<p><strong>Di antara sebab-sebab tersebut adalah: </strong></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Pengetahuan sang pelaku tentang keharaman dusta, siksanya yang berat dan selalu mengingat dalam setiap hendak berbicara.</li>
<li>Membiasakan diri dalam memikul tanggung jawab dalam segala hal yang benar dan berbicara jujur, apapun resikonya.</li>
<li>Memelihara kata-katanya dan senantiasa mengoreksinya.</li>
<li>Mengubah tempat-tempat membual menjadi tempat-tempat ibadah, dzikir dan mempelajari ilmu.</li>
<li>Hendaknya para pembual tahu, mereka telah menyandang salah satu sifat orang-orang munafik karena dustanya.</li>
<li>Hendaknya mereka juga memahami, dusta merupakan jalan menuju kemungkaran yang nantinya bermuara di Neraka, sedangkan jujur menuntun pelakunya ke Surga.</li>
<li>Hendaknya ia mendidik anak-anaknya secara Islami dan benar, mambiasakanmereka selalu jujur di setiap ucapan dan tindakannya serta senantiasa jujur di hadapan mereka.</li>
<li>Hendaknya ia mengerti, kepercayaan relasinya akan berkurang karena kebohongan-kebohongannya, bahkan bisa luntur sama sekali.</li>
<li>Hendaknya ia memahami, kebohongannya itu sangat membahayakan orang lain.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya hanya kepada Allah Ta&#8217;ala kita memohon agar kita dijauhkan dari sifat tercela ini, sehingga kita termasuk golongan hamba-hambaNya yang selalu bersikap jujur dalam segala situasi dan kondisi. Amien</p>
<p>Sumber: Kitab Al Kadzib,  Karya: Syaikh Abdul Malik Qashim (<em>Bit-tasharruf Wa Ziyadah, </em>AM. Afkar/alsofwah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailmusa.net/dosa-dosa-berbohong.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
